Saat ini, proyeksi dasar bank tersebut untuk harga minyak Brent adalah penurunan ke level US$90/barel pada akhir tahun.
Konflik Amerika Serikat (AS)-Iran telah mengguncang pasar pelayaran global, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di dalam dan sekitar Teluk Persia.
Konflik ini sempat memicu anjloknya volume pengiriman melalui Selat Hormuz, meskipun kini telah pulih; kapal-kapal kembali mengangkut kargo melalui jalur perairan yang diperebutkan tersebut untuk kemudian dipindahkan ke kapal tanker yang lebih besar, yang selanjutnya mengirimkan muatan itu ke pihak pengolah minyak.
Tingginya tarif pengangkutan minyak mentah dapat “menurunkan permintaan keseluruhan kilang terhadap minyak mentah, seiring dengan naiknya harga efektif minyak yang sampai ke tujuan,” ungkap para analis Goldman.
“Pihak kilang mungkin juga akan mencari pemasok yang lokasinya lebih dekat, sehingga mengubah pola perdagangan yang selama ini telah terbentuk.”
Untuk saat ini, faktor-faktor yang “menopang tarif pengangkutan minyak mentah kemungkinan besar akan terus bertahan selama konflik di Timur Tengah masih berada dalam kondisi seperti sekarang,” kata mereka.
Menurut para analis, hampir seperenam dari jumlah kapal tanker yang saat ini berada di Teluk Persia dan Teluk Oman terlibat dalam kegiatan transfer muatan antarkapal setiap harinya.
(bbn)





























