“Keuntungan dari dry ice ini, dampaknya bisa segera kita lihat, di mana visibility atau jarak pandang membaik. Tentu, dry ice ini bisa menarik bibit-bibit air, sehingga berpotensi menemukan hujan di angkasa, sehingga OMC juga bisa dilaksanakan dengan segera,” ujar dia.
Meski demikian, Berton menyebut pelaksanaan OMC tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang layak untuk disemai. Karena itu, modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan di semua wilayah setiap saat.
Dia mencontohkan pelaksanaan OMC di Riau yang berakhir pada 25 September 2026 karena wilayah tersebut telah mengalami hujan alami. Sebaliknya, penyemaian awan di Jambi tidak dapat dilakukan karena kondisi awan tidak mendukung.
“Untuk OMC di Riau sudah berakhir pada 25 September 2026, karena memang di sana sudah ada hujan alami yang terjadi. Sedangkan di Jambi kita tidak bisa melakukan penyemaian ataupun melakukan OMC, mengingat di sana tidak ada awan yang kurang mendukung, serta adanya feasibility yang relatif rendah,” jelas Berton.
(mef/frg)



























