Tidak Permanen
Dia menambahkan kenaikan harga minyak saat ini bukan merupakan tren kenaikan permanen, melainkan gangguan pasar yang bersifat sementara yang berdurasi panjang.
"Ini lonjakan sementara berdurasi panjang, tetapi bukan tren naik permanen," tegas Yayan.
Menurut Yayan, sifat sementara dari lonjakan ini didukung oleh tiga bukti utama. Pertama, sumber kenaikan harga disebabkan oleh berkurangnya pasokan minyak fisik, bukan akibat penguatan permintaan dunia.
Kedua, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memproyeksikan adanya tambahan pasokan sebesar 7,7 juta barel per hari pada 2027 yang berpotensi menciptakan surplus pasar.
Ketiga, pola ICP sepanjang tahun 2026 menunjukkan fluktuasi yang tajam, dengan selisih harga antarbulan mencapai rata-rata US$13,3/barel.
Meski demikian, pemulihan harga minyak diperkirakan membutuhkan waktu karena kerusakan sejumlah fasilitas fisik di Timur Tengah serta proses pengisian kembali stok minyak dunia yang berkurang hingga 500 juta barel.
"Kerusakan fasilitas kilang Kuwait, pipa Timur-Barat Arab Saudi, dan terminal CPC di Laut Hitam perlu diperbaiki, bukan sekadar dibuka kembali," kata Yayan.
Untuk tahun depan, harga minyak dunia diproyeksikan masih berada di level yang cukup tinggi sebelum kembali stabil secara bertahap pada paruh kedua 2027.
"Rentang realistis rata-rata Brent 2027 adalah US$80—US$95/barel, dengan ICP sekitar US$1,4 lebih rendah, serta risiko naik di atas US$100 bila Selat Hormuz tetap tertutup," tutur Yayan.
Untuk diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menetapkan asumsi ICP sebesar US$70/barel, turun dari target APBN 2025 di level US$82/barel.
Penurunan target ini mencerminkan pendekatan penyesuaian asumsi makro pemerintah di tengah dinamika dan fluktuasi pasar energi global.
Selain penetapan harga ICP, APBN 2026 juga mematok target produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi sebesar 1,594 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).
Target kumulatif tersebut terdiri dari target produksi minyak bumi sebesar 610.000 barel per hari (BOPD) serta produksi gas bumi yang ditargetkan mencapai 984 ribu BOEPD.
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan rata-rata ICP sepanjang Januari—Oktober 2026 mencapai US91—US92/barel.
Bahlil mengungkapkan melaporkan realisasi ICP tersebut ke Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang digelar Senin (19/10/2026).
“Rata-rata sampai dengan dari Januari sampai dengan Oktober sekarang ICP kita di angka US91—US92/barel,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026).
Bahlil mengungkapkan pada awal pekan ini ICP bergerak di sekitar level US106—US105/barel, tetapi rata-rata tahun berjalan masih berada di sekitar US$92/barel.
“Kita tahu bahwa kondisi global sampai dengan sekarang kondisinya makin tidak menentu, dan hari ini ICP sudah tembus di angka US100/barel, di angka US105—US106/barel,” ujar Bahlil.
Berkaitan dengan itu, Bahlil menyatakan cadangan bahan bakar minyak (BBM) RON 90 atau Pertalite berada di sekitar 16—20 hari. Di sisi lain, stok bensin RON 92, RON 95, dan 98 diklaim berada di atas 20 hari.
“RON 90 sekarang di angka 16—20 hari, kemudian selebihnya untuk bentuk BBM yang lain itu rata-rata di atas 20 hari,” tutur dia.
Adapun, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan gеоpolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada penetapan rata-rata ICP September 2026.
Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP September 2026 di level US$112,81/barel, naik tajam US$23,38 jika dibandingkan dengan harga pada Agustus 2026 yang masih bertengger di posisi US$89,43/barel.
Keputusan resmi tersebut telah tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia bulan September 2026.
(smr/wdh)




























