Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, konsensus ekonom dan analis soal arah kebijakan moneter BI sempat terbelah. Makin banyak yang mengubah proyeksi suku bunga acuan BI Rate yang pengumumannya akan digelar siang ini, Rabu (21/10/2026). 

Sebanyak 17 dari 38 ekonom/analis yang disurvei Bloomberg kini memperkirakan BI akan mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) jadi 6%. Sementara itu, dua ekonom (Bloomberg Economics dan Citigroup) memproyeksikan BI akan lebih agresif dengan menaikkan BI Rate sebanyak 50 bps jadi 6,25%.

Adapun 19 ekonom dan analis lainnya masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. 

Kelompok ekonom yang memperkirakan BI menahan suku bunga di 5,75% menilai bank sentral masih memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah. Dari sisi inflasi, laju kenaikan harga konsumen pada September tercatat 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5-3,5%. Kondisi ini dianggap masih memberi ruang bagi BI tidak buru-buru menaikkan suku bunga. 

Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi memperkirakan BI akan tetap menahan BI Rate di level sekarang. 

"Kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, setelah berhasil menjaga stabilitas rupiah. Di pasar spot rupiah kembali menguat dan berada di bawah level Rp18.000/US$," sebut Lionel. 

Data Bloomberg pagi ini menyebut rupiah kembali menguat ke kisaran Rp17.970/US$, mempertahankan posisinya usai pelemahan terbatas dalam pembukaan pasar. Begitu juga dengan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), yang berhasil defensif di kisaran Rp17.998/US$. 

Sedangkan menurut kelompok yang berpandangan hawkish, BI perlu mengerek suku bunga acuan kali ini. Sebab, harga minyak dunia tetap menjulang tinggi yang berpotensi mengerek inflasi. Memang, inflasi September masih 3,28% dan berada di kisaran target BI di 1,5%-3,5%.

Kenaikan harga minyak itu masih dibayangi ketidakpastian resolusi konflik Timur Tengah berpotensi mengerek inflasi lebih tinggi lagi. Kenaikan BI Rate jadi 6% pun bisa jadi sinyal lebih tegas tentang prioritas stabilitas moneter. 

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus keluar modal asing di pasar saham setelah MSCI mengumumkan bahwa Indonesia sedang dipertimbangkan untuk turun status jadi Standalone Market. 

(lav)

No more pages