Logo Bloomberg Technoz

Upaya mereka telah melemahkan langkah Iran yang mencoba mendapatkan posisi tawar dengan cara menghambat aliran energi global selama perang tujuh bulan melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Selasa (20/10/2026) bahwa volume minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz kini hampir kembali ke tingkat sebelum perang.

Melacak jumlah pasti barel minyak yang melewati jalur perairan tersebut menjadi sulit karena kapal-kapal sering mematikan transponder mereka. Namun, data dari perusahaan intelijen Kpler dan Vortexa menunjukkan bahwa ekspor dari kawasan Timur Tengah secara keseluruhan telah melonjak tajam sejak musim panas.

Pasar minyak mentah Teluk “berada di bawah tekanan” akibat ketersediaan sejumlah kargo dalam jangka waktu yang relatif singkat, ujar June Goh, analis minyak di Sparta Commodities SA.

Sementara harga kargo minyak mentah fisik dari Timur Tengah mencerminkan dinamika pasokan yang membaik, pasar minyak berjangka justru lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran akan potensi pengetatan pasokan di masa mendatang, kata Matias Togni, seorang ahli strategi perdagangan minyak independen.

Harga minyak mentah Brent naik pada hari Rabu setelah sempat mencapai level tertinggi dalam lima bulan, yakni mendekati US$112/barel pada hari sebelumnya, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Iran dapat meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal guna menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz.

Bagi para produsen di kawasan Teluk, persaingan untuk mendapatkan pelanggan semakin ketat demi menutupi hilangnya penjualan senilai miliaran dolar selama konflik berlangsung.

Irak hampir memulihkan ekspor minyak mentahnya ke tingkat sebelum perang dengan menawarkan kargo melalui potongan harga (diskon) yang besar—mencapai US$37/barel—dibandingkan dengan harga acuan minyak mentah regional.

Penurunan harga ini sebagian mencerminkan tingginya biaya pengiriman minyak keluar dari kawasan tersebut, dengan tarif sewa kapal tanker yang mencapai rekor tertinggi.

Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), Uni Emirat Arab (UEA)—salah satu negara yang paling berhasil mengeluarkan minyaknya melalui Selat Hormuz—telah meningkatkan produksi hingga mencapai rekor tertinggi pada bulan lalu.

Produksi Arab Saudi melonjak sepertiga pada September menjadi lebih dari 8 juta barel per hari, pulih dari tingkat terendah dalam lebih dari tiga dekade yang tercatat pada bulan sebelumnya.

(bbn)

No more pages