Berbeda dengan Aga, Ferdo mengaku pengeluaran untuk membeli token listrik di rumahnya tidak mengalami kenaikan meskipun cuaca sedang panas. Dia biasanya mengalokasikan sekitar Rp200.000 per bulan untuk kebutuhan listrik.
"Biasa aja, nggak naik kok karena panas," ungkap Ferdo kepada Bloomberg Technoz, Rabu (21/10).
Di sisi lain, Ferdo mengaku pengeluaran rumah tangganya secara keseluruhan mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Biaya hidup bulanannya yang sebelumnya sekitar Rp15 juta kini mencapai Rp20 juta. Dengan demikian, pengeluaran tersebut bertambah Rp5 juta atau meningkat sekitar 33,3%.
Dia menjelaskan, kenaikan pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan kedua anaknya yang kini bersekolah di institusi swasta internasional.
"Ya begitu lah, dalam beberapa bulan terakhir, makanya gue kerja sana-sini dalam bidang media ini," ungkapnya.
Berbeda dengan Ferdo, warga lainnya, Dena, mengaku mengalami kenaikan pengeluaran listrik dalam dua bulan terakhir. Dia mengatakan, biaya listrik rumah tangganya yang sebelumnya sekitar Rp350.000 per bulan kini meningkat menjadi Rp450.000 per bulan.
Dengan demikian, pengeluaran listrik Dena bertambah sekitar Rp100.000 atau naik 28,6% dibandingkan biasanya. Dia menduga kenaikan tersebut berkaitan dengan penggunaan kipas angin yang menyala hampir sepanjang hari serta AC di kamar tidurnya untuk menghadapi cuaca panas.
“Iya saking panasnya, eh listrik juga ikutan naik,” kata Dena.
(dec/spt)




























