Logo Bloomberg Technoz

Melansir data Bloomberg, CDS Indonesia sempat turun ke 82,91 pada 17 September. Namun pada awal Oktober, indikator ini kembali naik ke 95,84 sebelum berada di sekitar 94,91 pada 6 Oktober. 

Kenaikan itu berlangsung di saat sejumlah tekanan eksternal masih membayang pasar keuangan. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat tembus 5,2% sebelum akhirnya siang ini turun ke 5,11%. Pada saat bersamaan, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik jadi 7,45%. 

Situasinya juga kian rumit ketika harga minyak bertahan tinggi. Harga minyak Brent siang ini dibanderol US$110/barel untuk kontrak perdagangan terdekat.

Sebagai negara pegimpor minyak, Indonesia menghadapi risiko peningkatan biaya impor energi, tekanan inflasi, juga bertambahnya beban subsidi dan kompensasi energi. 

Menurut pengamat komoditas sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono, setiap kenaikan ICP sebanyak US$1 per barel akan memicu pembengkakan belanja subsidi bahan bakar minyak senilai Rp8,5 triliun hingga Rp10,5 triliun.

Untuk diketahui, kebutuhan konsumsi bahan bakar nasional saat ini mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi siap jual (lifting) minyak domestik hanya sekitar 600.000 bph. Kesenjangan ini membuat setiap kenaikan harga minyak dunia berdampak negatif terhadap postur anggaran negara.

Apabila tekanan dari kenaikan harga minyak dibiarkan berlangsung lama, investor akan menilai ulang prospek neraca eksternal dan ruang fiskal pemerintah.  

Selain itu, perkembangan terkait MSCI juga menjadi faktor tambahan yang memperburuk persepsi risiko Indonesia. Adanya usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market jadi standalone market menimbulkan kekhawatiran terhadap akses Indonesia ke modal global.

Persoalan yang disorot MSCI mencakup transaparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, juga soal kualitas tata kelola pasar modal. 

Meski fokus penilaian MSCI sebenarnya lebih kepada kelayakan investasi pasar saham, tapi dampaknya meluas ke instrumen keuangan lainnya, termasuk surat utang atau obligasi pemerintah. 

Gambaran itu juga sudah terlihat dari lelang sukuk kemarin. Pemerintah menerima penawaran masuk Rp22,76 triliun, turun 30% atau setara dengan Rp9,84 triliun dari lelang sebelumnya Rp32,61 triliun. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan juga naik untuk seri PBS berjangka panjang berada di kisaran 6,86% hingga 7,39%. 

--- dengan asistensi Sabrina Mulia

(dsp/aji)

No more pages