Logo Bloomberg Technoz

Melansir Bloomberg, dana asing yang masuk sepanjang tahun 2026, hingga Oktober, sebesar US$2,4 miliar. Akan tetapi, yang keluar ternyata lebih banyak, yaitu US$5,2 miliar. 

Sejalan dengan itu, investor asing juga mencatatkan jual bersih saham sebesar Rp8,9 triliun sepanjang bulan berjalan (month-to-date/MTD). 

Kondisi ini membuat rupiah semakin rentan, sebab imbal hasil yang sebelumnya menopang daya tarik mata uang Garuda kini mulai terkikis. 

Sebagai catatan, yield US Treasury kembali naik ke kisaran 5,13%, sementara harga minyak Brent bergerak di kisaran US$110/barel.

Untuk itu, menurut Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, pasar membutuhkan sinyal yang lebih tegas dan kredibel dari Bank Indonesia (BI). 

"Dalam jangka pendek hingga menengah, kebijakan BI berorientasi pada stabilitas nilai tukar. Namun, intervensi valuta asing (valas) saja mungkin tidak cukup untuk mempertahankan kepercayaan pasar," kata Rully.

Ia menilai langkah itu perlu diambil sebab pelemahan rupiah sepanjang tahun ini sudah tercatat 7,8%, inflasi umum juga mencapai 3,28% per September yang mendekati batas atas sasaran yang sebesar 3,5%, dan inflasi inti meningkat jadi 2,84% dari 2,36% pada akhir 2025 lalu. 

Kenaikan suku bunga kali ini sebenarnya dibutuhkan semata-mata sebagai sinyal tegas sikap BI kepada pasar kala rupiah melemah. Sebab, kebijakan suku bunga juga tidak sepenuhnya bisa membalikkan tren arus modal kembali masuk, sebab investor beralih karena faktor struktural. 

"Arus keluar dana asing terkait MSCI bersifat struktural dan tidak akan dapat diatas hanya melalui kebijakan suku bunga," ujar Rully.  

Menurut Rully kenaikan suku bunga sebelumnya tidak secara otomatis membuat kondisi likuiditas mengetat. Posisi outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sudah turun menjadi sekitar Rp989 triliun, dari sebelumnya Rp1.047 triliun di pertengahan September. 

Pelonggaran kondisi likuiditas itu telah mengurangi efektivitas pengetatan moneter yang diharapkan. Hal ini, menurut Rully, memperkuat alasan bagi BI untuk kembali memberikan sinyal kebijakan bunga yang tegas. 

(dsp/aji)

No more pages