Untuk menghadapi persaingan yang ketat, perusahaan-perusahaan tersebut bertaruh pada peningkatan penggunaan internet dan belanja konsumen untuk mendorong pertumbuhan pendapatan mereka.
Namun, tingkat inflasi dan suku bunga yang tinggi, serta gejolak harga energi akibat guncangan geopolitik, membebani daya beli konsumen. Kekhawatiran bahwa setiap kemunduran dalam dorongan pengembangan AI global dapat mengurangi permintaan di industri perangkat keras yang sangat penting di Asia Tenggara semakin meredam ekspektasi terhadap perekonomian kawasan ini.
AI membantu bisnis digital mengimbangi sebagian risiko tersebut. Media online diperkirakan akan tumbuh dengan laju tercepat dalam setidaknya lima tahun terakhir, didukung oleh lonjakan pendapatan iklan dari konten yang dipromosikan oleh AI, menurut laporan tersebut.
Sekitar 62% konsumen di Asia Tenggara kini lebih percaya diri menggunakan AI untuk mengambil keputusan penting dibandingkan tahun lalu, demikian ditunjukkan laporan tersebut.
AI juga mendorong pemulihan investasi teknologi di kawasan ini. Pendanaan untuk perusahaan swasta di kawasan ini melonjak lebih dari lima kali lipat pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan tersebut.
Kesepakatan besar untuk membangun pusat data memicu investasi, bersama dengan permintaan untuk menerapkan AI di berbagai industri, mulai dari perangkat software hingga layanan keuangan digital.
Banyak dari kesepakatan tersebut berfokus pada perusahaan-perusahaan yang berpotensi memperoleh keuntungan dari booming AI global, seperti operator pusat data. Di antaranya, perusahaan seperti STT GDC dan DayOne Data Centers Ltd. menyerap sebagian besar pendanaan tersebut.
(red)






























