"Kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, setelah berhasil menjaga stabilitas rupiah. Di pasar spot rupiah kembali menguat dan berada di bawah level Rp18.000/US$," sebut Lionel.
Data Bloomberg pagi ini menyebut rupiah kembali menguat ke kisaran Rp17.970/US$, mempertahankan posisinya usai pelemahan terbatas dalam pembukaan pasar. Begitu juga dengan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), yang berhasil defensif di kisaran Rp17.998/US$.
Sedangkan menurut kelompok yang berpandangan hawkish, BI perlu mengerek suku bunga acuan kali ini. Sebab, harga minyak dunia tetap menjulang tinggi yang berpotensi mengerek inflasi. Memang, inflasi September masih 3,28% dan berada di kisaran target BI di 1,5%-3,5%.
Kenaikan harga minyak itu masih dibayangi ketidakpastian resolusi konflik Timur Tengah berpotensi mengerek inflasi lebih tinggi lagi. Kenaikan BI Rate jadi 6% pun bisa jadi sinyal lebih tegas tentang prioritas stabilitas moneter.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus keluar modal asing di pasar saham setelah MSCI mengumumkan bahwa Indonesia sedang dipertimbangkan untuk turun status jadi Standalone Market.
Menurut Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede peluang menaikkan BI Rate semakin besar di tengah tekanan rupiah yang sempat menembus Rp18.000/US$.
"Menurut kami, peluang BI menaikkan BI Rate makin besar, dengan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 6% sebagai skenario utama," kata Josua.
Perlu Lebih Agresif
Meski pagi ini rupiah terhadap dolar AS dibanderol Rp17.978/US$ di pasar spot pada 09:30 WIB, tetapi penguatan ini cenderung rebound teknikal yang ditopang oleh intervensi bank sentral. Sementara tekanan eksternal masih terjadi dengan kenaikan harga minyak tembus di level US$110/barel.
Atas pertimbangan itu pula, dua ekonom dari Bloomberg Economics dan Citigroup menyebut BI harus lebih agresif mengingat tekanan eksternal lebih kuat. Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai, BI perlu menaikkan suku bunga secara agresif.
Proyeksi Henderson didorong oleh ancaman MSCI. Jika penurunan status terjadi, arus investasi saham senilai miliaran dolar AS dari investor institusi berpotensi beralih ke pasar lain.
Hal tersebut dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan risiko terhadap peringkat kredit negara. Henderson menyebut, sejak pengumuman MSCI, rupiah melemah 0,6% yang disusul koreksi di pasar saham sebesar 14,8%.
Tekanan di pasar saham juga terlihat dari penjualan bersih investor asing sebesar US$4,7 miliar sepanjang Januari-September 2026. Henderson juga memproyeksikan, inflasi akan naik melampaui sasaran inflasi BI.
"Jika Destry (Desty Damayanti, Gubernur BI) ingin membangun kredibilitas di mata pasar, maka saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengambil langkah antisipatif. Lebih baik mengerem secara bertahap sekarang daripada harus mengambil langkah yang jauh lebih besar di kemudian hari," sebut Henderson dalam catatannya.
(dsp/aji)





























