Logo Bloomberg Technoz

Selaras dengan hal tersebut, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mencermati dinamika pasar saham yang saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai sentimen dan kondisi global. Dalam konteks tersebut, Perseroan memandang bahwa pergerakan harga saham BBRI saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental, kinerja, maupun prospek bisnis perusahaan secara utuh. 

Terkait rencana adanya buyback saham, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan perseroan siap untuk berpartisipasi. “Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.

Rencana buyback tersebut menjadi bagian dari strategi Perseroan dalam menjaga nilai perusahaan dan mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperpanjang kebijakan pembelian kembali saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hingga 31 Desember 2026.

Dalam siaran pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026, OJK menyatakan perpanjangan kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan pasar serta potensi risiko yang masih membayangi perdagangan saham domestik.

"OJK menetapkan pemberlakuan kembali ketentuan batasan Auto Rejection dan memperpanjang kebijakan pelaksanaan pembelian kembali (buyback) saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sampai dengan 31 Desember 2026," demikian keterangan resmi OJK.

Kebijakan tersebut memberikan fleksibilitas kepada perusahaan terbuka untuk melaksanakan buyback tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPS, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Relaksasi ini mengacu pada Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 mengenai kebijakan dalam menjaga kinerja dan stabilitas pasar modal pada kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Buyback menjadi salah satu instrumen yang tersedia bagi emiten untuk merespons volatilitas pasar dan menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Namun, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan, kebutuhan modal, serta strategi masing-masing perseroan.

(red)

No more pages