“Harga tembaga bisa mengalami koreksi signifikan jika tarif tersebut tidak jadi diberlakukan.”
Harga tembaga telah naik sekitar 15% tahun ini, sempat menyentuh rekor di bawah US$15.000/metrik ton pada bulan lalu, seiring dengan terus menumpuknya stok logam tersebut di Amerika Serikat.
Kenaikan harga komoditas ini juga didorong oleh optimisme mengenai peningkatan permintaan—terkait dengan transisi energi global dan pembangunan pusat data—serta adanya indikasi tantangan pasokan di berbagai tambang utama, termasuk penurunan kadar bijih.
BHP Group menyatakan produksi tembaga selama tiga bulan hingga September turun 19% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut laporan kuartalan yang dirilis pada Selasa (20/10/2026).
Perusahaan pertambangan terbesar di dunia tersebut menyoroti penurunan kadar bijih, pemeliharaan terjadwal, serta gangguan akibat cuaca ekstrem sebagai penyebabnya. Proyeksi produksi untuk setahun penuh tetap tidak berubah.
Jiang dari China-Base Ningbo mengatakan bahwa meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS turut menahan laju harga logam industri.
Setelah memperketat kebijakan bulan lalu—untuk pertama kalinya sejak 2023—para pejabat Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan bertemu pekan depan untuk memutuskan apakah akan menunda kenaikan suku bunga menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) atau kembali menaikkannya.
Di LME, harga tembaga stabil di angka US$14.340,50/metrik ton pada pukul 10.53 pagi waktu Shanghai. Harga logam lainnya cenderung stagnan atau melemah, dengan aluminium turun 0,4% menjadi US$3.003,50/metrik ton.
(bbn)





























