Di sisi lain, PT Sinergi Graha Kapital kini menjadi investor jangka panjang baru WIFI dengan kepemilikan 1,41 juta saham atau sekitar 26,66% dari saham beredar.
Divestasi separuh kepemilikan Investasi Sukses Bersama itu terjadi selang beberapa pekan selepas keputusan Hashim S. Djojohadikusumo mengundurkan diri dari posisinya sebagai Komisaris Utama WIFI akhir September 2026 lalu.
Bersama Hashim, Henny Santoso yang menjabat sebagai direktur WIFI juga ikut mengajukan pengunduran diri dari posisinya.
Adapun, pengendali WIFI Investasi Sukses Bersama berisikan konsorsium investors kelas kakap yang mendukung transformasi perusahaan beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar saham Investasi Sukses Bersama dipegang oleh konsorsium PT Media Wiguna Nusantara dan kendaraan investasi Hashim, PT Arsari Sentra Data.
Sejumlah investor di balik Media Wiguna Nusantara di antaranya Fadel Muhammad, PT Sinergi Investasi Digital dan Arwin Rasyid.
Sementara itu, Tinawati yang juga menjadi penerima manfaat akhir dari PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menguasai 90% saham PT Sinergi Investasi Digital.
Adapun, konsorsium PG Dimensi Dunia Digital sebagian besar sahamnya dikuasai Hermansjah Haryono sekitar 99,8% dan sisanya dihimpit Vidia Asyifha.
Margin Usaha
Sebelumnya, manajemen WIFI memperkirakan margin EBITDA perseroan bisa bergerak ke level 50% sampai 60% dalam jangka panjang.
Direktur Surge atau WIFI, Shannedy Ong mengatakan perseroannya bakal melanjutkan investasi pada seluruh lini bisnis Surge untuk menjaga margin EBITDA bertahan di level tinggi.
“Kita sangat yakin kita bisa memaintain range between 50%-60%, dan kita sudah mempertimbangkan ekspansi agresif kita di FWA [fixed wireless access], makanya kita kasih range itu,” kata Shannedy saat public expose daring, Senin (7/9/2026).
WIFI mencetak laba bersih Rp331,2 miliar pada semester I-2026, naik 45% secara tahunan.
Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar Rp948,9 miliar atau tumbuh 117% YoY dan 13% QoQ. Margin EBITDA tetap terjaga pada level 60,4%, meski lebih rendah dibandingkan 85,2% pada Semester I 2025.
Penurunan margin dipengaruhi meningkatnya kontribusi bisnis telekomunikasi ritel yang secara struktural memiliki margin lebih rendah dibandingkan proyek infrastruktur, namun menawarkan pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Shannedy menuturkan margin EBITDA WIFI cenderung berada di atas kompetitor lantaran mendorong bisnis model yang berbeda.
“Dari sisi go to market kita juga merubah total, dari sisi network planning and design kita juga ubah total, dan yang terakhir itu dar isisi streamliing organisation di mana kita sudah adopsi artificial intelligence,” tuturnya.
Margin EBITDA itu diperkirakan akan terbebani seluruh biaya yang mungkin muncul dari target pemasangan jaringan 3,5 juta home passes, 5.500 FWA sites dan susbscriber lebih dari 3 juta pelanggan.
WIFI mencetak pendapatan sebesar Rrp1,57 triliun sepanjang paruh pertama tahun ini, meningkatkan 206% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan itu ditopang oleh monetisasi aset yang telah dibangun perseroan.
Segmen telekomunikasi menyumbang Rp1,28 triliun atau meningkat 357% secara ta tahunan. Segmen ini menyumbang 82% dari total pendapatan perseroan, meningkat dari sekitar 55% pada Semester I 2025.
Kinerja tersebut didukung oleh basis pelanggan Home Connect Fiber-to-the-Home (FTTH) yang mencapai 1,85 juta pelanggan serta peluncuran komersial layanan HomeConnect Fixed Wireless Access (FWA) pada akhir Februari 2026.
Pada sisi operasional, layanan HomeConnect FTTH mencatat 1,85 juta pelanggan atau meningkat 377% YoY.
Belakangan, WIFI meluncurkan layanan fixed broadband Starlite Prime dan Starlite Super. Produk Starlite Super menawarkan kecepatan hingga 2 Gbps berbasis teknologi XGS-PON dan Wi-Fi 7 dengan harga Rp250.000 per bulan.
(naw)





























