Logo Bloomberg Technoz

"Pertanyaan strategisnya adalah apakah investasi yang berkelanjutan dapat diterjemahkan menjadi kinerja industri yang lebih kuat, produktivitas yang lebih tinggi, dan kesejahteraan yang lebih luas," katanya.

Shan menyoroti kinerja produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026. Angka tersebut memang melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I, tetapi masih melampaui konsensus pasar sebesar 5,1%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 mencapai 5,45%. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih berada dalam jalur ekspansi yang relatif solid.

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06%, sementara investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat 6,87%. Kedua komponen tersebut masing-masing memberikan kontribusi sebesar 2,67 dan 2,06 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan sebesar 15,97%. Sementara itu, impor meningkat 8,82%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 4,13%.

Menurut Shan, kondisi tersebut menggambarkan permintaan domestik yang masih bertahan, meskipun peningkatan kebutuhan impor tetap perlu mendapat perhatian dalam penguatan struktur industri nasional.

Dari sisi investasi, Shan melihat perkembangan yang lebih menjanjikan. Berdasarkan data pemerintah, realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi tersebut setara dengan 49,5% dari target investasi tahunan. Komposisi investasi asing dan domestik juga relatif berimbang, sementara wilayah di luar Pulau Jawa menyerap 50,2% dari total investasi.

Perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas penanaman modal tidak hanya terkonsentrasi di pusat pertumbuhan ekonomi tradisional, tetapi juga mulai tersebar ke berbagai wilayah Indonesia.

Program hilirisasi yang menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Prabowo dan Gibran turut menjadi perhatian Shan.

Sepanjang semester I 2026, investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp206,5 triliun mengalir ke industri pengolahan mineral.

Modal asing menyumbang sekitar 70,9% dari keseluruhan investasi hilirisasi. Shan menilai kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh transfer teknologi, meningkatkan keahlian tenaga kerja, serta memperluas akses pasar internasional.

Namun, menurutnya, manfaat investasi tersebut harus diperkuat melalui keterlibatan pemasok domestik dan peningkatan kemampuan tenaga kerja nasional.
Secara keseluruhan, realisasi investasi sepanjang semester I 2026 turut mendukung penciptaan sekitar 1,45 juta lapangan kerja di berbagai sektor perekonomian.

Meski demikian, Shan mengingatkan bahwa transformasi industri Indonesia masih membutuhkan penguatan lebih lanjut.

Pertumbuhan sektor manufaktur tercatat sebesar 4,52%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,64%.

Menurutnya, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan lemahnya produktivitas nasional. Namun, peningkatan belanja modal juga tidak otomatis berarti transformasi industri telah berhasil sepenuhnya.

Dalam proyeksinya, SSI Research memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 mencapai 5,35%. Proyeksi tersebut mengindikasikan pertumbuhan pada semester II berpotensi berada di kisaran 5,2% hingga 5,3%.

Shan menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang mampu meningkatkan manfaat ekonomi dari setiap investasi melalui pembangunan infrastruktur yang andal, kepastian regulasi, serta penguatan jaringan pemasok industri dalam negeri.

Impor mesin dan barang modal, menurutnya, dapat menjadi fondasi bagi peningkatan kapasitas produksi Indonesia pada masa mendatang. Namun, keberhasilan kebijakan investasi pada akhirnya harus tercermin dalam peningkatan daya saing produk, nilai tambah domestik, dan penciptaan lapangan kerja produktif.

"Investasi membangun kapasitas. Pelaksanaan menciptakan nilai tambah. Produktivitas menopang kesejahteraan," tegas Shan.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi catatan bagi dua tahun pemerintahan Prabowo dan Gibran. Indonesia dinilai telah memiliki fondasi stabilitas ekonomi dan investasi yang kuat, sementara tantangan berikutnya adalah mengubah modal tersebut menjadi pertumbuhan industri yang lebih kompetitif, produktif, dan berkelanjutan.

Klaim Capaian Pemerintah : Transformasi Bangsa: Dua Tahun Gerak Nyata

Berdasarkan dokumen Transformasi Bangsa: Dua Tahun Gerak Nyata edisi Oktober 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut disebut sebagai pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Kinerja tersebut mencerminkan kemampuan ekonomi nasional mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah dinamika perekonomian global. Pemerintah juga menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi guna melindungi daya beli masyarakat.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 triliun dengan penyerapan sekitar 2,7 juta tenaga kerja. Sementara itu, pada semester I-2026, investasi telah mencapai Rp1.010 triliun dan menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja.

Perkembangan investasi tersebut menjadi salah satu penopang aktivitas perekonomian sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru.
Perbaikan juga tercermin pada indikator ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran terbuka Indonesia menurun dari 4,76% pada Februari 2025 menjadi 4,68% pada Februari 2026, atau turun 0,08 poin persentase.

Pada saat bersamaan, tingkat kemiskinan nasional turun dari 8,25% pada September 2025 menjadi 8,07% pada Maret 2026. Penurunan sebesar 0,18 poin persentase tersebut menunjukkan perkembangan positif pada indikator kesejahteraan masyarakat.

Di sektor pertanian, produk domestik bruto (PDB) pertanian tumbuh 5,74% sepanjang 2025, yang dalam dokumen tersebut disebut sebagai capaian tertinggi dalam 25 tahun. Nilai Tukar Petani (NTP) juga mencapai level 131 pada 2026, tertinggi dalam 34 tahun.

“Peningkatan NTP menunjukkan perbaikan posisi harga yang diterima petani dibandingkan harga yang dibayarkan, sehingga menjadi salah satu indikator penguatan daya beli di sektor pertanian,” demikian kata Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom)

Anggota Tim Ahli Badan Komunikasi Pemerintah RI Fithra Faisal Hastiadi (tengah) saat Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026, Kamis (12/2).

Stabilitas Harga dan Efisiensi Fiskal

Selain mendorong pertumbuhan, pemerintah mempertahankan sejumlah kebijakan stabilisasi harga energi dan kebutuhan masyarakat.

Harga Pertalite dipertahankan sebesar Rp10.000 per liter dan Solar subsidi Rp6.800 per liter. Pemerintah juga menjaga tarif listrik yang diatur serta mempertahankan subsidi LPG 3 kilogram.

Di sektor pangan, cadangan beras Bulog tercatat mencapai 4,5 juta ton per 18 Oktober 2026. Ketersediaan cadangan tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan nasional.

Dari sisi fiskal, pemerintahan Prabowo-Gibran melakukan efisiensi belanja negara melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Penghematan yang mencakup belanja perjalanan, alat tulis kantor, sewa, dan kegiatan seremonial mencapai Rp306,17 triliun.

“Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penataan belanja pemerintah dan pengelolaan anggaran negara,” tambah Fithra.

Pemerintah juga memperkuat perlindungan daya beli melalui kenaikan upah minimum sebesar 6,5% pada 2025, bantuan subsidi upah, serta berbagai program perlindungan sosial.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, perkembangan indikator makroekonomi tersebut menjadi modal untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan nasional.

“Meski demikian, peningkatan kualitas lapangan kerja, pemerataan kesejahteraan, penguatan daya beli, dan keberlanjutan investasi tetap menjadi tantangan yang perlu dijawab agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tutup Fithra.

(red)

No more pages