Dari Asia, sebagian mata uang masih berhasil defensif meski dengan penguatan terbatas. Seperti peso Filipina terapresiasi 0,09%, rupiah 0,07%, yuan offshore, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong masing-masing 0,01%. Hanya won Korea Selatan yang menguat paling tajam 0,35%.
Sebaliknya , dolar Taiwan masih tertekan bersama baht Thailand, dan yen Jepang. Sementara, rupiah berhasil defensif.
Penguatan sebagian mata uang Asia ditopang oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dengan probabilitas kenaikan Fed Fund Rate (FFR) hanya 17%, lebih rendah dari pekan lalu 20%.
Sementera, ekspektasi inflasi masih menekan sebagian besar surat utang di pasar global. Data Bloomberg menunjukkan yield terangkat naik. US Treasury mencatat kenaikan yield di tenor 10 tahun sebesar 6,3 basis poin (bps) jadi 5,13%, diikuti Jepang 2,6 bps ke 2,92%, Jerman naik 2,9 bps jadi 3,45%, Italia naik 7,8 bps ke 4,56%, Prancis bahkan melejit 13,4 bps ke 4,93%. Sementara, Australia naik 5,1 bps jadi 5,27%, China relatif stabil 1,62% dan Korea Selatan di 4,19%.
Kenaikan yield di pasar obligasi dunia dipicu oleh kekhawatiran akan inflasi global yang terus menanjak dan sulit dikendalikan. Perang AS-Iran mendorong harga energi lebih tinggi.
Meski penguat secara terbatas, rupiah diperkirakan masih akan tertekan hari ini. Jika menguat, posisi rupiah lebih menunjukkan perbaikan secara teknikal dengan adanya intervensi oleh Bank Indonesia (BI), alih-alih perubahan tren secara luas. Sebab, harga minyak persisten tinggi di atas US$100/barel diikuti dengan berbagai sentimen domestik yang masih berkelindan.
(dsp)

























