Sekadar informasi, China masih tercatat menjadi negara tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia yang melalui jalur laut pada September 2026, yakni mencapai 12,42 juta mt.
Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler yang dihimpun SX Coal, ekspor batu bara ke China tercatat turun 15,48% dari bulan sebelumnya atau secara month to month (mtm) dan turun 32,97% secara tahunan atau year on year (yoy).
Secara umum, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada September 2026 tercatat sebesar 36,45 juta mt naik tipis 0,52% dari bulan sebelumnya dan turun 18,11% yoy.
Kenaikan tipis ekspor secara bulanan tersebut dinilai didukung pemulihan permintaan dari India dan Filipina. Namun, melambatnya permintaan dari China hingga Malaysia justru membebani ekspor secara keseluruhan.
Di sisi lain, sepanjang Januari—September 2026 atau year to date (ytd), SX Coal mencatat ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut mencapai 338 juta mt atau turun 6,16% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM melaporkan capaian produksi batu bara nasional hingga Juli 2026 telah menembus angka 423,71 juta mt.
Dari total produksi sebanyak 423,71 juta metrik ton tersebut, porsi ekspor mendominasi sebesar 63,82% (270,40 juta mt).
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri menyerap 26,86% (113,40 juta mt) dan sisanya sebesar 9,32% (39,51 juta mt) menjadi stok nasional.
Dari realisasi produksi selama tujuh bulan tersebut, rata-rata produksi batu bara nasional berada di kisaran 60 juta mt per bulan.
Dengan begitu, Kementerian ESDM memperkirakan produksi batu bara mencapai 720 juta mt hingga akhir 2026.
(wdh)



























