Logo Bloomberg Technoz

Dalam skenario kedua, jika perang AS-Iran meluas menjadi konflik regional yang lebih besar dan mendorong harga minyak naik hingga US$130 per barel, inflasi global berpotensi mencapai 5% pada kuartal IV-2026. Sementara, inflasi tahun depan diperkirakan akan berada di level 3,5% di kuartal IV, lebih tinggi dibandingkan proyeksi skenario dasar. 

Perbedaan inflasi dalam dua skenario itu menunjukkan besarnya pengaruh harga energi terhadap prospek inflasi global. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada biaya bahan bakar, tetapi juga meningkatkan biaya transportasi, logistik, produksi, dan berbagai input industri. Jika tekanan tersebut berlangsung lama, dampaknya dapat menyebar ke lebih banyak sektor dan membuat inflasi lebih sulit dikendalikan.

Proyeksi inflasi global. (Bloomberg Economics)

Risiko berikutnya adalah perubahan ekspektasi inflasi. Kala rumah tangga dan pelaku usaha memperkirakan harga akan terus menanjak, pekerja dapat menuntut kenaikan upah, sementara perusahaan menyesuaikan harga jual untuk mempertahankan margin. 

Jika kondisi ini berlangsung secara luas, tekanan harga yang semula dipicu oleh pasokan energi bisa menjadi lebih persisten dan memperumit keputusan kebijakan moneter. 

Namun, prospek inflasi tak sepenuhnya buruk. Dalam skenario yang lebih jinak, jika perang mereda dan harga minyak ternyata bisa turun ke US$70/barel, ini dapat memberi ruang bagi inflasi global untuk mereda. Dalam skenario ini, Bloomberg Economics memperkirakan inflasi terpangkas jadi 4,2% di 2026 dan turun lagi jadi 3% di 2027. 

Namun, Johnson menilai prospek perdamaian yang bertahan lama memang masih sulit dipastikan, sehingga risiko kenaikan harga energi tetap perlu diperhitungkan. 

Skenario tersebut menunjukkan bahwa arah inflasi global tak cuma ditentukan oleh kebijakan moneter, tapi juga perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan komoditas. 

Bank sentral memang dapat menaikkan suku bunga untuk meredam permintaan dan menjaga ekspektasi inflasi, tapi instrumen tersebut agaknya tidak bisa juga secara langsung memulihkan pasokan minyak atau mengakhiri konflik. Sedangkan, pengetatan yang kelewat agresif juga berisiko menekan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. 

Ujian Bagi Bank Sentral

Ancaman inflasi global di akhir 2026 punya dampak yang luas, ketimbang sekadar kenaikan harga energi. Apabila harga minyak bertahan di sekitar US$100/barel atau bahkan naik lagi ke US$130/barel, bank sentral akan menghadapi dilema.

Di satu sisi, bank sentral perlu mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi lebih lama dengan kembali memperketat kebijakan. Namun di sisi lain, kondisi pengetatan moneter bisa meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah, dunia usaha, dan rumah tangga. 

Meski begitu, bank sentral negara-negara diperkirakan masih akan memperketat kebijakan moneternya untuk melawan inflasi. Di AS, bank sentral Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan, setidaknya satu kali lagi di tahun ini. Melansir Fedwatch, probabilitas kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang sempat turun jadi 16% dari 20% pada kemarin, hari ini naik lagi jadi 17,2%. 

Sementara, sebagian negara Asia diperkirakan masih akan terus memantau pergerakan inflasi ini. Bank sentral Indonesia, Bank Indonesia (BI) besok (21/10/2026) akan mengumumkan kebijakan moneter. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median estimasi BI mempertahankan suku bunga di 5,75%. 

Begitu juga dengan Korea Selatan, Bank of Korea (BOK) diperkirakan mempertahankan suku bunga di 3% sama dengan bulan sebelumnya. BOK akan mengumumkan suku bunga pada Rabu (22/10/2026). 

Sementara, bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI) telah mengerek suku bunga acuannya di bulan Oktober ini. RBI menaikkan suku bunga jadi 5,5% dari posisi sebelumnya 5,25%. 

(dsp/aji)

No more pages