Logo Bloomberg Technoz

Dibayangi Tekanan, Rupiah Berpotensi Lanjutkan Tren Pelemahan

Tim Riset Bloomberg Technoz
20 October 2026 08:15

Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah diperkirakan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (20/10/2026) menyusul tingginya harga minyak di US$109,51/barel. Namun, harga minyak tidak menekan semua mata uang Asia.

Indeks dolar AS sedikit landai ke 101,92. Won Korea Selatan masih melanjutkan reli 0,41%, diikuti sebagian mata uang lain yang lebih terbatas seperti baht Thailand 0,03%, yuan China 0,02%, dolar Singapira 0,02% dan dolar Hong Kong 0,01%.

Sebaliknya, dari zona merah ringgit melemah terbatas bersama yen Jepang, masing-masing 0,04% dan 0,04%. 

Pergerakan mata uang Asia, Selasa (20/10/2026). (Bloomberg)

Namun, pasar surat utang global kembali mendingin. Data Bloomberg menunjukkan yield terangkat naik. US Treasury mencatat kenaikan yield di tenor 10 tahun sebesar 6,3 basis poin (bps) jadi 5,13%, diikuti Jepang 2,6 bps ke 2,92%, Jerman naik 2,9 bps jadi 3,45%, Italia naik 7,8 bps ke 4,56%, Prancis bahkan melejit 13,4 bps ke 4,93%. Sementara, Australia naik 5,1 bps jadi 5,27%, China relatif stabil 1,62% dan Korea Selatan di 4,19%. 

Kenaikan yield di pasar obligasi dunia dipicu oleh kekhawatiran akan inflasi global yang terus menanjak dan sulit dikendalikan. Perang AS-Iran mendorong harga energi lebih tinggi.