Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp25,15 triliun dari sejumlah 34,08 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi menyentuh 1,62 juta kali diperjualbelikan. Tercatat hanya ada penguatan 100 saham, dan 656 saham melemah. Sisanya 43 saham stagnan.
Saham–saham barang baku, saham infrastruktur, dan saham konsumen non primer big caps menjadi pemberat IHSG, dengan masing–masing minus 4,56%, 4,44% dan 4,08%. Adapun saham konsumen primer, saham kesehatan, dan saham perindustrian juga turut melemah pada penutupan perdagangan hari ini.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga top losers:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membebani 32,52 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membebani 14,81 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membebani 12,76 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membebani 12,04 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 9,95 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 5,36 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) membebani 4,73 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengurangi 4,62 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membebani 4,08 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengurangi 3,95 poin
Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang turun 6,95%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) ambles 6,92%, dan juga saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 6,89%.
Senada, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) drop 6,87%, saham PT Indosat Tbk (ISAT) melemah 6,84%. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terpeleset 6,82% hingga menjadi pemberat IHSG.
Ambrolnya IHSG hari ini tergencet isu pengumuman MSCI menyoal ancaman degradasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market hingga potensi freeze yang terus berlanjut, mendorong para pelaku pasar untuk bersikap hati–hati.
MSCI secara mengejutkan mengusulkan untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia dari status pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar mandiri (Standalone). Penurunan (downgrade) status akan membuat saham-saham Indonesia dikeluarkan dari indeks yang dilacak oleh dana-dana global, yang berpotensi memicu keluarnya modal investasi asing senilai miliaran dolar.
“MSCI mengungkapkan bahwa para investor telah menyampaikan kekhawatiran mengenai kurangnya transparansi yang berkelanjutan dalam struktur kepemilikan saham serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mempengaruhi informasi harga,” papar Phillip Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya, Senin (19/10/2026).
Terlebih lagi IHSG sudah terpangkas 40% tahun ini dan menjadi Indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia.
Berdasarkan data LSEG, melansir Phillip Sekuritas, investor asing telah menarik dana sebesar US$4,6 miliar dari pasar saham di Indonesia sepanjang tahun ini. UBS memprediksi penghapusan dari indeks global dapat memicu arus keluar dana tambahan sebesar US$4 miliar dari investasi pasif, serta sekitar US$15 miliar dari investor aktif.
“Jika peringkatnya diturunkan, Indonesia akan bergabung dengan Argentina, Libanon, Palestina, dan Ukraina dalam kategori Standalone (berdiri sendiri), sekaligus menjadi satu-satunya pasar saham di Asia-Pasifik dalam kelompok tersebut,” terang Phillip.
(fad)


























