Namun, 9 dari 27 ekonom memperkirakan BI akan kembali mengerek suku bunga 25 basis poin (bps) jadi 6%, termasuk Bloomberg Economics. Bahkan, Helmi Arman dari Citi mengubah proyeksinya dan memperkirakan BI Rate dikerek hingga 6,25% alias 50 bps.
Pelaku pasar masih akan mencermati juga mencermati arah suku bunga global. Konsensus Bloomberg yang memperkirakan BI menahan BI Rate juga didorong oleh turunnya probabilitas kenaikan Federal Funds Rate dari sinyal yang ditangkap pelaku pasar dari Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan IMF-Bank Dunia di Bangkok. Warsh tidak menyiratkan adanya kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini.
Sementara, menurut Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi, arah BI Rate saat ini tak lagi terlalu berpengaruh pada sentimen yang sedang meliputi pasar domestik. Meski BI menaikkan BI Rate satu kali sebanyak 25 bps, belum tentu mampu menahan volatilitas rupiah.
Untuk diketahui, tekanan di pasar keuangan Tanah Air saat ini datang dari memudarnya kepercayaan investor setelah MSCI mempertimbangkan akan mengubah klasifikasi jadi standalone market, alih-alih frontier market seperti pertimbangan sebelumnya.
MSCI menilai benah-benah transparansi saham Indonesia belum optimal memperbaiki struktur perdagangan hingga kepemilikan saham di bursa. “Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti,” begitu sebut MSCI dalam keterangan resminya.
Di sisi lain, perkembangan politik domestik juga turut memengaruhi sentimen investor. Bloomberg Economics bahkan menyoroti risiko ketidakstabilan politik Indonesia. Dalam model risiko negara yang digunakan, Indonesia mencatat indeks ketidakstabilan politik sebesar 20,55, tertinggi di antara negara-negara G20 dan jauh di atas India yang berada di posisi kedua dengan 7,47.
Kondisi ini diperkirakan masih akan terus menekan pergerakan rupiah ke depan. Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp18.100/US$ jika tekanan aksi jual aset domestik terus berlanjut, bahkan pada level paling pesimistis, ekonom memperkirakan rupiah berpotensi sentuh level Rp18.500/US$.
(dsp/aji)

























