Jeffrey mengatakan BEI selama ini berupaya menjaga agar investor asing tetap bertransaksi di pasar modal Indonesia. Namun, dia menilai investor institusi domestik juga perlu mengambil peran lebih aktif dalam mendukung pasar.
Terkait upaya mendorong partisipasi tersebut, Jeffrey menyebut BEI telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak. Meski demikian, dia mengatakan belum ada pertemuan khusus dengan satu atau dua institusi tertentu yang ditujukan untuk membahas hal tersebut.
"Khusus dengan satu-dua belum, tetapi secara umum kemarin kita melakukan pertemuan dengan banyak pihak," katanya.
Guna meredam guncangan imbas wacana standalone market, BEI juga mengambil sejumlah kebijakan, seperti pada pagi tadi dengan menyesuaikan batas auto reject bawah (ARB) menjadi 7%.
Jeffrey menambahkan, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan meminta klarifikasi kepada MSCI mengenai latar belakang pengumuman tersebut.
Otoritas juga menegaskan reformasi pasar modal akan terus berlanjut, terutama untuk meningkatkan transparansi, kredibilitas, dan tata kelola.
Meski menghadapi tekanan, Jeffrey menyatakan optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia ke depan, dengan fundamental perusahaan tercatat dan besarnya jumlah investor ritel sebagai salah satu penopang.
"Dengan itu semua tentu kita punya keyakinan yang sangat tinggi, ke depan pasar modal Indonesia akan jauh lebih baik, punya prospek yang jauh lebih baik," ujarnya.
(dhf)


























