Sebagai catatan, itu hanya skenario jika dana tambahan Danantara dihabiskan dalam satu kali transaksi. Sementara, institusi besar umumnya melakukan transaksi secara perlahan melalui beberapa tahapan pembelian.
Sebelumnya, mengutip Reuters, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$3 miliar untuk saham dan obligasi di dalam maupun luar negeri. Bergantung pada kondisi pasar, lembaga tersebut berencana menginvestasikan tambahan US$1 miliar hingga akhir tahun ini.
“Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai hal itu hanya didorong oleh sentimen eksternal yang sangat sementara, maka kami mungkin akan turun tangan,” kata Rani Piputri, kepala investasi publik di Danantara Investment Management.
Ia mengatakan dana tersebut telah digunakan untuk investasi secara bertahap sejak akhir tahun lalu hingga periode aksi jual besar-besaran di pasar saham. Aksi jual itu terjadi setelah MSCI memperingatkan pada Januari bahwa mereka dapat menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Piputri mengatakan Danantara mungkin akan turun tangan jika penurunan klasifikasi yang memicu aksi jual lebih lanjut bulan depan dinilai membuka peluang investasi yang menguntungkan.
“Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” ujarnya.
“Kami membeli (pada awal tahun ini) karena melihat adanya nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Ada keuntungan ketika orang-orang tidak menyukai suatu aset, sementara kami melihat nilainya, karena kami bisa mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian, ketika mereka kembali menyukainya, kami bisa menjualnya kepada mereka.”
Saran Rosan
Secara terpisah, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi Rosan Roeslani mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk masuk ke bursa saham RI. Hal itu ia ungkapkan dalam konferensi pers merespons guncangan IHSG setelah muncul wacana MSCI membuka wacana memasukkan bursa saham RI ke kategori standalone market.
Menurutnya, valuasi saham emiten di BEI saat ini sedang murah, seiring tekanan jual yang terjadi sejak awal tahun.
"Ini adalah momen, karena kita lihat valuasi dari perusahaan kita yang ada di bursa termasuk BUMN itu valuasinya sangat bisa dibilang rendah saat ini, justru kami melihat ini sebagai suatu peluang ke depannya. Tentunya kami sebagai Danantara melihat itu sebagai [peluang] longterm ivestment, bukan sebagai investor yang cepat in and out karena kami meyakini dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik," tutur Rosan, Jumat (16/10/2026).
Ia mencontohkan saham perbankan. Menurutnya, saham-saham ini memiliki fundamental yang baik, namun valuasinya dibawah 1kali PBV dan ini dibawah rata-rata valuasi di peer di industrinya.
Valuasi murah juga ada di sektor lain seperti infrastruktur, telekomunikasi dan seterusnya.
"Ini adalah peluang untuk kita sebagai investor jangka panjang untuk masuk bersama-sama beserta ekosistem kami yang ada karena kami meyakini mereka akan meningkat. Benar di bursa ada naik dan turun tetapi ini soal teknikal bukan soal fundamental dan rumor market dan non fundamental."
(red)























