Logo Bloomberg Technoz

Tekanan di pasar surat utang ini juga diikuti dengan meningginya premi risiko aset domestik yang tercermin dari kenaikan Credit Default Swap (CDS) ke 98,34, setelah awal bulan ini masih berada di kisaran 91. 

Surat Utang Global

Dari pasar global, reaksi pasar cenderung stabil usai pelaku pasar menangkap sinyal dovish Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve Kevin Warsh. Dalam pidatonya di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Warsh tidak secara jelas mengungkap arah kebijakan suku bunga acuan The Fed dalam pertemuan Oktober ini. 

Probabilitas kenaikan FFR kembali turun 16% dari 20%, setelah pekan lalu pasar menangkap sinyal dovish dari Kevin Warsh.

Yield US Treasury 10 tahun terpangkas jadi 5,06%, JGB (Jepang) juga melandai jadi 2,88% diikuti surat utang pemerintah Australia turun jadi 5,22%. Sedangkan surat utang Korea Selatan relatif stabil di 4,16%, dan China 1,64%. 

Meredanya sebagian yield surat utang pemerintah global seharusnya bisa jadi bantalan bagi pasra surat utang domestik.

Akan tetapi, sentimen eksternal yang relatif kondusif belum sepenuhnya bisa meredam tekanan terhadap surat utang domestik, mengingat investor kini berhadapan dengan peningkatan risiko spesifik Indonesia setelah pengumuman MSCI. 

Bisa dikatakan, tekanan terhadap aset domestik hari ini tak lagi sekadar ditentukan oleh arah suku bunga global, tapi juga persepsi investor terhadap kredibilitas tata kelola pasar keuangan. 

Arah BI Rate

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan BI Rate pada Rabu (21/10/2026). Bloomberg Economics memperkirakan BI akan mengerek suku bunga acuan 25 bps ke 6% pada pertemuan tersebut. Pelemahan rupiah yang kian persisten dalam sebulan terakhir hampir 1,5% menjadi salah satu pertimbangannya. 

Selain itu, inflasi juga diperkirakan akan kembali menanjak melampaui target 1,5-3,5% sejurus dengan harga minyak mentah bertahan tinggi di US$105/barel, dan dampak fenomena El Nino yang mulai menjangkiti kenaikan harga pangan. 

Namun, menurut Lionel, arah BI Rate saat ini tak lagi terlalu berpengaruh pada sentimen yang sedang meliputi pasar domestik. Meski BI menaikkan BI Rate satu kali sebanyak 25 bps, belum tentu mampu menahan volatilitas rupiah. 

Sementara konsensus Bloomberg per 19 Oktober menghasilkan median estimasi memperkirakan BI Rate tetap menahan suku bunga di 5,75%. Namun demikian, sebanyak 9 dari 27 ekonom memperkirakan BI akan tetap mengerek suku bunga acuan menjadi 6%. Bahkan, Helmi Arman dari Citi mengubah proyeksinya, dan memperkirakan BI Rate dikerek hingga 6,25% alias 50 bps. 

Ekspektasi kenaikan BI Rate ini menguat di tengah tekanan terhadap rupiah dan kekhawatiran arus modal keluar setelah MSCI menyoroti soal transparansi dan investabilitas pasar saham Indonesia. 

Siang ini, rupiah bergerak di kisaran Rp18.045/US$, dengan potensi pelemahan hingga Rp18.080/US$. Sementara, di pasar offshore rupiah lebih lemah di level Rp18.082/US$.  

(dsp/aji)

No more pages