Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6%, menurut Bloomberg Economics.
Namun, konsensus pasar belum sepenuhnya menggambarkan median proyeksi. BI akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Oktober.
Di tengah sentimen ini, rupiah diperkirakan akan terus bergerak volatil di rentang Rp18.010-Rp18.100/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melemah pada perdagangan hari ini, dengan target pelemahan menuju Rp18.050/US$ sampai menembus Rp18.080/US$. Hingga selanjutnya bisa saja lanjut melemah ke Rp18.100/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka ada kemungkinan melemah hingga Rp18.170/US$,.
Namun kalau rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, maka resistance terdekat dapat menuju Rp18.000/US$. Sementara rentang laju rupiah dalam resistance nantinya di antara Rp17.900/US$ sampai dengan Rp17.800/US$, biarpun peluangnya amat terbatas.
(riset/aji)























