Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta Papua Selatan.

BMKG mengungkapkan, kondisi atmosfer pada awal Oktober 2026 menunjukkan El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat. Hal ini tercermin dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 yang mencapai +3,33°C serta indeks ENSO tiga bulanan periode Agustus-September-Oktober sebesar +3,08.

Selain itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat sebesar +0,703. BMKG menyatakan kondisi El Niño sangat kuat dan IOD positif cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, hujan lokal masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah tertentu.

BMKG juga mencatat suhu udara maksimum di atas 37°C pada sejumlah wilayah pada 12-13 Oktober 2026. Suhu tertinggi tercatat di Lampung sebesar 38,2°C, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing 37,8°C, serta Papua Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 37,4°C.

Kondisi panas dan kering tersebut turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan pada 14 Oktober 2026, BMKG mengidentifikasi 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi dampak cuaca panas dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla.

(ain)

No more pages