Rata-rata suku bunga yang dibayarkan pemerintah atas surat utang negara (Treasuries) yang dapat diperdagangkan mencapai 3,52% pada akhir September, lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka 1,47% lima tahun sebelumnya.
Lebih buruk lagi, imbal hasil (yield) saat ini bahkan lebih tinggi; tolok ukur dari indeks US Treasuries Bloomberg kini berada di kisaran 5%. Kenaikan suku bunga ini mendorong Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk mengambil langkah-langkah luar biasa guna meredam dampaknya, meskipun para ekonom berpendapat bahwa negara ini masih jauh dari krisis. Permintaan dalam lelang surat utang tetap kuat, dan tingginya biaya pinjaman tidak menghambat arus kredit.
“Ini tidak terlihat seperti krisis—melainkan lebih kepada pengikisan kapasitas fiskal secara perlahan,” ujar Louise Sheiner, peneliti senior di Brookings Institution sekaligus mantan ekonom di Federal Reserve. Hal yang belum diketahui adalah pada titik mana “beberapa pemberi pinjaman akan memutuskan untuk tidak lagi memberikan pinjaman kepada kita — dan jika itu terjadi, hal tersebut dapat memicu krisis fiskal,” di mana Departemen Keuangan kehilangan akses untuk menggalang dana dari pasar, ujarnya.
Gennadiy Goldberg, kepala strategi suku bunga AS di TD Securities, mengatakan bahwa salah satu faktor yang untuk sementara mencegah kekhawatiran lebih dalam adalah tingkat pertumbuhan PDB nominal negara tersebut — yang merupakan kunci bagi aspek-aspek seperti pendapatan perusahaan dan penerimaan pajak — masih lebih tinggi daripada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury).
Pertumbuhan PDB nominal tahun-ke-tahun (year-on-year) untuk kuartal kedua tercatat sebesar 6,3%. “Kiamat fiskal belum terjadi saat ini,” tulis Goldberg dalam sebuah catatan baru-baru ini.
“Entah bagaimana kita masih bisa mengatasinya, meskipun suku bunga terus naik,” ujar Direktur Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office), Phillip Swagel, dalam sebuah acara di Minneapolis pada 8 Oktober.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa dinamika fiskal yang memburuk membuat negara ini semakin rentan. “Setiap kali terjadi guncangan negatif, atau suku bunga naik karena alasan apa pun,” bisa muncul “efek akselerator” (turbocharger effect).
Dalam skenario tersebut, guncangan akibat suku bunga yang lebih tinggi “akan berdampak pada defisit, menambah utang, dan kemudian kembali memengaruhi suku bunga dalam perekonomian,” kata Swagel. Lembaga yang dipimpinnya pada bulan Februari memproyeksikan bahwa rasio utang terhadap PDB akan mencapai rekor tertinggi, yakni melampaui 106% pada tahun 2030.
Mantan pejabat Departemen Keuangan ini juga menuturkan bahwa meskipun ia telah menyampaikan pesan fiskal yang sama sejak lama, dalam dua tahun terakhir, para pelaku pasar menunjukkan perhatian yang lebih besar.
Biaya bunga kini menjadi salah satu dari tiga pos pengeluaran federal terbesar, setelah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2022. Pos ini hanya dilampaui oleh Jaminan Sosial (Social Security) dan Medicare — program federal berskala besar bagi warga Amerika lanjut usia — yang biayanya terus meningkat setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penerima manfaat hingga jutaan orang. Departemen Pertahanan dan Medicaid melengkapi daftar lima besar pengeluaran tersebut.
Terakhir kali biaya bunga sebagai proporsi dari utang berada di tingkat seperti saat ini, dunia politik Amerika bersiap untuk menghadapi tantangan tersebut. Presiden George H.W. Bush dikenal karena mengingkari janjinya untuk tidak menaikkan pajak dengan menandatangani paket kenaikan pajak pada tahun 1990, tepat sebelum rasio biaya bunga mencapai puncaknya. Penggantinya, Bill Clinton, kemudian kembali menaikkan pajak pada tahun 1993.
Menunggu Bencana?
Berakhirnya Perang Dingin juga diikuti oleh penurunan belanja pertahanan, yang memperbaiki kondisi fiskal. Menjelang akhir tahun 1990-an, peningkatan pertumbuhan ekonomi—di tengah meluasnya penggunaan internet dan komputer pribadi—mendorong kenaikan pendapatan negara.
Saat ini, Bessent dan sejumlah pejabat pemerintahan Trump lainnya mengunggulkan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai stimulus pertumbuhan yang diharapkan dapat membantu menurunkan rasio utang. Namun, para pakar anggaran merasa skeptis. Menurut mereka, belanja untuk sektor pertahanan dan program jaminan sosial (entitlement programs) diperkirakan akan terus meningkat, sementara pertumbuhan PDB kemungkinan tidak cukup cepat untuk mendongkrak pendapatan negara secara memadai.
“Masalah ini justru semakin memburuk, jadi kita tidak perlu lagi berdebat apakah harus menunggu sampai bencana terjadi—kita harus mulai menanganinya sekarang,” ujar Brett Loper, wakil presiden eksekutif bidang kebijakan di Peterson Foundation. “Akan sangat sulit untuk keluar dari masalah ini.”
Peningkatan pembayaran bunga bersih tahun ini, yang mencapai $81,4 miliar, bisa jadi tampak kecil jika suku bunga terus naik. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan jangka pendeknya—yang saat ini berada di kisaran 3,75% hingga 4%—setidaknya satu kali lagi. Langkah ini akan meningkatkan biaya utang jangka pendek, jenis utang yang belakangan semakin sering dipilih oleh Bessent.
Menurut perhitungan TD Securities, kenaikan 100 basis poin di sepanjang kurva imbal hasil (yield curve) akan meningkatkan biaya bunga pada tahun 2027 sebesar $310 miliar.
“Menurut saya, krisis fiskal tidak akan terjadi dalam waktu dekat; ekonomi kita masih cukup kuat,” ujar Karen Dynan, profesor ekonomi di Universitas Harvard yang pernah bertugas di Departemen Keuangan pada masa pemerintahan Obama. Ia juga mencatat bahwa tingkat suku bunga saat ini belum kembali ke level seperti tiga atau empat dekade lalu.
Di sisi lain, ia menambahkan, “dengan tingkat utang yang begitu tinggi, pembayaran bunga bersih menjadi sangat krusial—hal ini akan menyebabkan utang terus membengkak layaknya bola salju. Kenaikan suku bunga dan pembayaran bunga terhadap PDB dapat memicu tekanan publik agar ada tindakan yang diambil.”
(bbn)




























