Logo Bloomberg Technoz

"Harganya nanti harga pasar, kan masih 2028. Kalau yang 2026 udah deal," tutur Djoko.

Adapun, Donggi Senoro menyatakan kesiapannya untuk melakukan ekspansi kapasitas kilang pengolahan gas alam cair.

Meskipun demikian, perusahaan masih menunggu kepastian alokasi pasokan gas dari sektor hulu (upstream) selepas 2028.

Plant Deputy General Manager PT Donggi-Senoro LNG Sugianto Darsani menjelaskan peluang penambahan fasilitas pemrosesan mandiri (train) atau kapasitas pengolahan kilang sangat bergantung pada kepastian volume pasokan gas bumi dari produsen hulu.

"Potensi penambahan train kilang sangat bergantung pada ketersediaan alokasi pasokan gas dari sektor hulu," kata Sugianto saat ditemui di fasilitas kilang DSLNG di Banggai, Sulawesi Tengah, medio Agustus.

Sugianto menegaskan manajemen DSLNG siap mengeksekusi proyek pengembangan kilang apabila pemerintah memberikan tambahan alokasi gas dalam jumlah yang memadai setelah 2028.

"Apabila ada tambahan alokasi gas berkisar 70 hingga 100 juta standar kaki kubik per hari [million standard cubic feet per day/MMSCFD] dari pemerintah pasca-2028, kami sudah sangat siap," tambahnya.

Sugianto juga menegaskan kepastian pasokan gas alam jangka panjang kini makin terbuka setelah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hulu, yakni joint operating body (JOB) Pertamina-Medco Tomori Sulawesi (JOB PMTS) di Blok Senoro—Toili, berhasil menemukan cadangan gas baru di struktur Senoro Selatan atau Sok Senoro.

Selain itu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), ungkap dia, juga telah mengidentifikasi potensi cadangan baru di wilayah sumur Tedong (TDG)-001, yang terletak di Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

"Saat ini, pihak produsen hulu sedang mengajukan perpanjangan kontrak kerja sama [KKS] hingga 2047 kepada pemerintah," ungkap Sugianto.

Dia menjelaskan faktor keekonomian operasional kilang memerlukan ambang batas volume pasokan harian minimum agar proses pengolahan berjalan efisien.

"Untuk mengoperasikan kilang secara efisien, kami membutuhkan pasokan gas minimum 200 juta standar kaki kubik per hari. Di bawah angka tersebut, operasional kilang menjadi tidak ekonomis," ujar Sugianto.

(azr/ros)

No more pages