“Malah mungkin dengan asing keluar harga turun, investor dalam negeri silahkan serok saja sekarang,” ucap Dradjad.
Ia meminta investor domestik untuk bersikap resilient dan menghitung sendiri fundamental pasar saham di Indonesia. Menurutnya investor yang mudah panik akan lebih rugi, terlebih ia menyebut investasi di pasar modal merupakan salah satu bentuk tabungan masyarakat.
“Nah kalau gampang panik akan rugi. Tapi kalau kita nggak gampang panik, itu akan bisa lebih aman,” sebut Dradjad.
“Jadi saya berharap investor dalam negeri Indonesia tidak terlalu, ya itu tadi, ngitung sendiri dan jangan gampang panik.”
Sebelumnya, MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, menurut pernyataan penyedia indeks tersebut pada Kamis.
Konsultasi ini dilakukan setelah MSCI memperingatkan bahwa sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Hingga saat ini, para pelaku pasar tersebut belum melihat kemajuan yang konsisten dan memadai di pasar saham Indonesia, menurut pernyataan MSCI pada Kamis. Keputusan final diperkirakan akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027, menurut penyedia indeks tersebut.
“Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti.”
Hal ini membuat IHSG ambles 11,2% hingga menyentuh level 5.199,13 pada Jumat (16/10/2026), sekaligus menjadi yang terendah sejak 2020 atau terlemah dalam enam tahun lebih perdagangan saham.
(ell)



























