Situasi geopolitik, kebijakan perdagangan, dan potensi dampak dari belanja kecerdasan buatan (AI) diperkirakan turut memengaruhi pasokan, permintaan, dan harga.
"Logam industri akan terus mencatatkan kinerja beragam, terjepit di antara latar belakang makroekonomi yang menantang dan fundamental spesifik komoditas yang semakin berbeda-beda, di mana kondisi moneter yang lebih ketat akan membatasi potensi kenaikan harga secara luas," tulis BMI, perusahaan di bawah Fitch Solutions, dalam catatannya.
Sentimen yang lebih positif pada Jumat didukung oleh pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh, yang mengatakan bahwa investasi dalam kecerdasan buatan memberikan manfaat besar bagi perekonomian AS.
Meski ia tidak berkomentar mengenai kebijakan moneter, spekulasi mengenai kenaikan suku bunga mereda setelah dia berpidato di Bangkok. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menjadi hambatan bagi pasar logam karena dapat mendinginkan permintaan dan meningkatkan biaya bagi produsen.
Tembaga naik 0,9% menjadi US$14.477 per ton di London Metal Exchange pada pukul 12.51 siang waktu Shanghai, sementara aluminium naik 1% menjadi US$3.017, dan seng menguat 1,3% menjadi US$3.711,50 per ton.
Citigroup Inc menyatakan dalam catatannya bahwa mereka bersikap "netral dalam jangka pendek" terhadap tembaga dan aluminium, dengan memperkirakan harga tidak akan banyak berubah dari level saat ini dalam tiga bulan ke depan.
"Posisi pasar untuk kedua logam tersebut tergolong tinggi, di mana proyeksi neraca tahun 2027 cenderung seimbang untuk tembaga dan surplus untuk aluminium, di tengah ekspektasi pertumbuhan pasokan yang lebih kuat bagi kedua logam tersebut hingga tahun depan," kata bank tersebut.
(bbn)






























