Logo Bloomberg Technoz

Dia menyatakan pada 2025 sudah terdapat sekitar 1.400 titik yang teraliri listrik dengan diberikan program Lisdes.

“Pada 2025, itu kan 1.400. Pada 2026, 4.000 lebih. Jadi kita insyaallah perlahan-lahan kita agresif untuk melakukan ini,” tutur Bahlil.

Sebelumnya, Kementerian ESDM telah melakukan penandatanganan kontrak tahap I untuk program Lisdes di 1.520 lokasi dengan anggaran Rp4 triliun, dari total anggaran program listrik desa 2026 senilai Rp10,3 triliun.

Anggaran listrik desa sebesar Rp10,3 triliun bersumber dari rupiah murni Rp994 miliar dan anggaran belanja tambahan (ABT) Rp9,3 triliun.

Saat ini, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) sedang menyusun untuk menyelesaikan dokumen perencanaan program listrik desa bagi 2.330 lokasi.

Untuk tahun ini, ditargetkan 17.853 pelanggan mendapatkan manfaat program Lisdes.

“Anggaran dari program Lisdes 2026 telah ditetapkan sebesar Rp10,3 triliun yang terdiri dari rupiah murni reguler Rp994 miliar dan anggaran tambahan sekitar Rp9,3 triliun,” kata Plt Dirjen Ketenagalistrikan Tri Winarno di Komisi XII DPR, Kamis (4/6/2026).

Tri menjelaskan program Lisdes periode 2026—2027 dirancang dengan pembangunan jaringan distribusi kelistrikan dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal yang mencakup 3.850 lokasi dengan kebutuhan anggaran Rp18,65 triliun.

Sepanjang 2025, program Lisdes sudah menjangkau 1.403 lokasi. Dari besaran itu, telah dibangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3.773 km, jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 3.056 km, dan gardu distribusi berkapasitas total 92.300 kilovolt ampere (kVA).

Dalam kesempatan itu, Tri juga mengungkapkan berdasarkan akhir 2025 masih terdapat 10.068 lokasi yang belum teraliri listrik.

Perinciannya, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi; Kalimantan 1.099 lokasi; Sulawesi 799 lokasi; Sumatra 985 lokasi; dan Jawa 1.630 lokasi.

“Di mana konsentrasi terbesar berada di wilayah Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi atau lebih dari 55% dari total yang kita rencanakan, yang mencerminkan tantangan geografis kepulauan atau keterpencilan wilayah yang sangat berat,” ungkap Tri.

Kementerian ESDM menargetkan penyambungan listrik sekitar 1,2 juta rumah tangga dari program Lisdes sepanjang 2025—2029. Selain itu, program Lisdes turut menargetkan elektrifikasi untuk 5.758 desa.

Kementerian ESDM mengalokasikan dana sekitar Rp4,52 triliun untuk program Lisdes tahun lalu, dengan perincian Rp3,85 triliun untuk pembangunan jaringan listrik perdesaan, Rp0,22 triliun untuk peningkatan jam nyala 24 jam per hari, dan Rp0,45 triliun untuk bantuan pasang baru listrik (BPBL) atau instalasi gratis.

Adapun, kebutuhan investasi untuk program Lisdes sampai akhir 2029 diperkirakan mencapai Rp50 triliun.

Program Lisdes dibiayai sepenuhnya oleh APBN untuk Kementerian ESDM, dengan prioritas rumah tangga miskin yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

(azr/wdh)

No more pages