“Di Indonesia sendiri, total gas yang kita produksi 30%-nya itu kita ekspor. Untuk LNG kita tidak impor. LNG itu semuanya memenuhi dipenuhi oleh produksi dalam negeri, bahkan kita ekspor 30%. Namun, LNG itu bahan bakunya itu C1—C2, di mana C1—C2 ini tidak cocok dipakai untuk LPG,” ujar Bahlil.
Adapun, kilang milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) tersebut memiliki kapasitas pengolahan gas sebesar 40 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Kilang tersebut memiliki kapasitas produksi LPG sebesar 160 metrik ton per hari atau 52.800 metrik ton per tahun. Kemudian, kilang tersebut menghasilkan kondensat sebanyak 320 barel per hari atau 105.600 barel per tahun
Produksi LPG 52.800 metrik ton/tahun dari kilang tersebut setara dengan sekitar 18,7 juta tabung LPG berukuran 3 kilogram per tahun.
Adapun, gas sisa pengolahan atau lean gas dikembalikan kepada PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).
Kilang LPG Cilamaya dibangun selama 13 bulan dengan total investasi US$36,93 juta, pembangunannya melibatkan sekitar 200 tenaga kerja.
Dalam pengoperasiannya, Kilang LPG Cilamaya menggunakan teknologi mechanical refrigeration untuk proses pendinginan gas dan turbo expander untuk pengolahan gas.
Sekadar catatan, ENP merupakan perusahaan migas yang mengolah gas bumi menjadi LPG dan kondensat. ENP mulai beroperasi di Gresik pada 2007 dan telah memproduksi sekitar 1 juta metrik ton LPG selama kurang lebih 19 tahun.
Pembangunan kilang Cilamaya menambah kapasitas pengolahan ENP menjadi 140 MMSCFD, dari sebelumnya 100 MMSCFD di Kilang Gresik.
(azr/wdh)





























