Mulai dari inflasi September yang menanjak jadi 3,28% yoy, daya beli melemah yang tercermin pada penurunan keyakinan konsumen, kondisi neraca dagang yang masih surplus tetapi tergerus banyak oleh defisit minyak dan gas (migas), serta utang luar negeri yang menembus Rp8.220 triliun, tertinggi sepanjang sejarah.
Dari sisi eksternal, rupiah masih menghadapi tekanan dari tingginya harga minyak yang masih berada di sekitar US$105/barel, diikuti ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed setidaknya satu kali pada bulan ini.
Dengan kondisi dan sentimen yang saling berkelindan hari ini, rupiah spot diperkirakan tertekan dan berpotensi menguji area Rp18.000/US$ hingga Rp18.050/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berisiko lanjut melemah pada perdagangan hari ini, dengan target pelemahan menuju Rp18.000/US$. Level selanjutnya bisa lanjut melemah hingga Rp18.050/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun rupiah terkonfirmasi membentuk tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka ada kemungkinan melemah hingga Rp18.100/US$, yang tercermin dari time frame harian.
Namun apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat, maka resistance terdekat dapat menuju Rp17.900/US$. Sementara range laju rupiah dalam resistance nantinya di antara Rp17.800/US$ sampai dengan Rp17.700/US$ biarpun peluangnya terus mengecil.
Mata Uang Asia
Tak cuma rupiah yang menghadapi tekanan, mata uang Asia juga melemah pagi ini. Won Korea Selatan terpangkas 0,23%, diikuti yen Jepang 0,06%, dolar Singapura 0,04%, dan yuan offshore 0,02%.
Belum ada mata uang kawasan yang bergerak di zona hijau pada 07:51 WIB.
Pelemahan mata uang Asia dipicu oleh indeks dolar yang bergerak konsolidatif terhadap mata uang utama. Pelaku pasar saat ini masih menantikan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dan para pejabat bank sentral untuk mencari petunjuk soal arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Pelaku pasar mencermati pidato Warsh, yang dijadwalkan berpidato sekitar 11:30 waktu Hong Kong, untuk mencari petunjuk tentang adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober.
Ekspektasi ini muncul di tengah indikasi bahwa perekonomian AS masih cukup tangguh dan inflasi masih membandel, meskipun pasar tenaga kerja mulai melemah. Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pelaku pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini sebesar 25%, lebih tinggi dari 18% pada pekan lalu.
(riset/aji)

























