Angka tersebut melebihi konsensus sebesar 3,6%, sementara inflasi inti naik menjadi 2,6% YoY.
Head of Department BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, memproyeksikan bahwa risiko pelemahan IHSG semakin besar setelah Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) AS periode September 2026 turut melonjak 1,3% secara bulanan (month-on-month/MoM).
Angka ini berada jauh di atas perkiraan konsensus yang sebesar 0,5%. Lonjakan inflasi produsen hingga 6,3% YoY ini dipicu oleh kenaikan harga energi sebesar 10,8% MoM serta tingginya biaya jasa.
"Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan harga telah meluas ke rantai produksi, menjaga volatilitas pasar global, serta meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer) yang menekan aset berisiko di pasar negara berkembang (emerging markets)," ujar Chory dalam risetnya, Jumat (16/10/2026).
Secara teknikal, IHSG telah menembus garis batas psikologis (neckline Head & Shoulders) pada level 6.000. Penembusan tersebut didukung oleh indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang bernada negatif serta posisi indeks yang berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (Moving Average 20/ MA20) pada level 6.133. Chory memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 5.745–5.920.
Jika batas bawah penopang (support) pada level 5.745 tertembus, indeks berisiko melemah menuju level 5.600. Sebaliknya, area batas atas penahan kenaikan (resistance) pada rentang 5.920–6.000 menjadi zona konfirmasi pemulihan.
Pandangan yang lebih optimistis disampaikan oleh Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta. Menurut Nafan, ruang penurunan IHSG relatif terbatas karena indeks telah menguji area gelombang koreksi (wave (X)), sehingga momentum penguatan mulai terbentuk.
"Meskipun indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal negatif, volume perdagangan tercatat mengalami peningkatan. IHSG berpeluang bergerak konsolidasi dalam rangka menghimpun momentum (gathering momentum) dengan potensi pemulihan teknikal (technical rebound)," jelas Nafan dalam risetnya, Jumat (16/10/2026).
Optimisme tersebut didukung oleh masuknya aliran modal asing bersih (net foreign buy) sebesar Rp520,03 miliar di pasar reguler pada perdagangan kemarin.
Selain itu, melandainya tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun ke level 5,061% dan tenor 2 tahun ke level 4,757% turut meredam kekhawatiran pasar dan memicu pemulihan bursa Wall Street.
Dari sisi domestik, pergerakan indeks ditopang oleh rotasi pemodal ke saham-saham defensif (tahan banting) dan komoditas. Sektor-sektor tersebut meliputi perbankan berkapitalisasi besar (big-cap seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BBTN), emiten barang konsumen primer (consumer goods), serta sektor energi.
Aksi bargain hunting juga didorong oleh antisipasi investor terhadap rilis laporan keuangan kuartal III-2026.
Sentimen positif tambahan datang dari sinergi reformasi pasar modal antara Danantara, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Bank Indonesia.
Kesiapan Danantara untuk mengucurkan investasi hingga US$1 miliar ke pasar saham hingga akhir 2026 diharapkan dapat memperkuat likuiditas dan kepercayaan investor di tengah isu tudingan MSCI tersebut.
Adapun saham yang menjadi perhatian dalam rekomendasi perdagangan dari BRI Danareksa Sekuritas adalah MYOR, BSDE, PWON. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham ANTM, BRMS dan CMRY.
(smr)
























