Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Indonesia berisiko kehilangan statusnya yang prestisius sebagai pasar negara berkembang setelah MSCI Inc memulai konsultasi dengan alasan belum adanya kemajuan dalam mengatasi kekhawatiran investor terhadap pasar saham negara Asia Tenggara tersebut.

Perhatian kini tertuju pada kemungkinan meluasnya penguatan saham setelah aksi jual mengungkap meningkatnya kegelisahan terhadap dominasi saham-saham terkait AI dalam mencetak kenaikan pasar. Tanda-tanda peralihan investasi ke sektor pasar lainnya dapat memberikan pijakan yang lebih kuat bagi saham setelah selama berbulan-bulan saham teknologi mendominasi imbal hasil pasar.

“Setelah saham-saham AI mencatat reli kuat selama beberapa bulan terakhir, saham-saham bernilai menjadi terlalu murah, sementara saham teknologi menjadi cukup mahal di tengah euforia kecerdasan buatan,” kata Brian Frank, presiden sekaligus manajer portofolio di Frank Funds. “Kami masih mencari perusahaan dengan kondisi kredit yang baik dan saham yang diperdagangkan dengan harga diskon, sebagai antisipasi jika pertumbuhan atau belanja konsumen melemah akibat inflasi yang sulit turun.”

Tanda-tanda pergeseran yang lebih luas sebenarnya sudah terlihat di Wall Street. Indeks S&P 500 dengan bobot yang sama untuk setiap saham naik 1,4%, dengan saham sektor kesehatan dan kebutuhan pokok konsumen memimpin penguatan.

Pada saat yang sama, pertanyaan mengenai keberlanjutan ledakan investasi AI mulai merembet ke pasar kredit, seiring investor mencermati utang yang digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI. Kekhawatiran terhadap kelangsungan bisnis CoreWeave menjadi salah satu titik utama perhatian, sekaligus memperkuat spekulasi bahwa belanja perusahaan telah melampaui kemampuan mereka untuk menghasilkan keuntungan.

Reli Treasury sempat kehilangan momentum pada Kamis setelah data indeks harga produsen (IHP) dan penjualan ritel AS pada September meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Data tersebut memperkuat tekanan inflasi yang mendorong Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada bulan lalu untuk pertama kalinya sejak 2023, sekaligus mempertahankan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Kontrak berjangka sempat menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober melampaui 50%.

Kondisi tersebut membuat pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh pada Kamis malam waktu New York semakin menjadi sorotan untuk mencari petunjuk apakah para pejabat bank sentral mulai mengarah pada kenaikan suku bunga berikutnya pada Oktober. Warsh dijadwalkan berbicara di Bangkok dalam sesi diskusi bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva.

“Secara keseluruhan, kami memperkirakan Warsh akan menyampaikan pernyataan yang tidak mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada Oktober,” kata Krishna Guha dari Evercore. “Warsh akan mempertimbangkan gejolak global pada saham teknologi serta tanda-tanda pengetatan kondisi pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan AI yang lebih rentan, di samping kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang telah terjadi sebelumnya.”

(bbn)

No more pages