Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (15/10/2026).
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 5,47 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menekan 5,27 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 4,58 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menekan 4,34 poin
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menekan 4,31 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menekan 3,29 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menekan 2,97 poin
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mengurangi 2,52 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menekan 1,92 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menekan 1,86 poin
Adapun saham–saham LQ45 lain turut jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) drop 7,88%, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) terpeleset 6,41%, dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga melemah dengan kehilangan 5,84%.
Saham–saham lainnya juga menjadi pemberat IHSG, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) drop 5,26%, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) terpeleset 5,11%, dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga melemah dengan kehilangan 4,15%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah 1,33% di level 5.863 pada perdagangan Kamis (15/10/2026), tertekan sentimen negatif yang berasal dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) pada pertemuan bulan Oktober ini.
Bursa Asia juga melemah, dipimpin oleh indeks KOSPI seiring dengan berlanjutnya tekanan jual pada saham semikonduktor di tengah kecemasan meningkatnya persaingan dengan Tiongkok serta data inflasi AS yang membuat semakin besar peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut pada Oktober ini. Kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak juga masih tetap tinggi.
Terlebih lagi, nilai tukar rupiah yang ditutup melemah 0,21% hingga berada di atas level Rp17.938/US$ di pasar spot, menjadi tambahan sentimen negatif bagi IHSG.
Secara teknikal, diprediksi IHSG masih bergerak sideways di rentang 5.800–6.000. “Jika IHSG ditutup di bawah level 5.800, maka berpotensi menguji support berikutnya di 5.700/5.650/5.600,” papar Phintraco, Rabu.
Panin Sekuritas mencermati sentimen domestik yang turut ter-spillover oleh melemahnya pasar Asia dan AS seiring terjadinya flight–to–safety menuju pasar obligasi AS. Panin juga mencermati pelemahan IHSG yang diiringi depresiasi rupiah sebesar 0,21% serta yield SBN relatif naik, mengindikasikan pergerakan modal yang relatif outflow menuju aset safe haven berdenominasi dolar AS.
“Pasar juga mulai berfokus pada jelang keputusan index review MSCI pada November 2026 dengan base case tetap pada kemungkinan MSCI melanjutkan interim freeze terhadap kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) and Number of Shares (NOS) saham Indonesia,” analisis Panin Sekuritas.
Kendati demikian, rilis data ekspor-impor Tiongkok per September 2026 yang better–than–expected dapat menjadi katalis positif bagi makro domestik, terutama terhadap neraca dagang Indonesia dan bantalan cadangan devisa, yang dapat memicu BI kembali melanjutkan hold rate.
(fad)





























