“Tidak boleh permainkan konsumen dengan produsen. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita harus bela rakyat kita, peternak dan konsumen,” tegasnya.
Maksimalkan MBG
Amran mengatakan pemerintah juga memperkuat penyerapan dan biaya produksi. Dari sisi penyerapan, salah satunya lewat optimalisasi dari program makan bergizi gratis (MBG).
Pemerintah, kata dia, juga mendorong percepatan penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyediaan pakan melalui ID FOOD untuk membantu peternak memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau.
"Pemerintah akan terus mengawal agar peternak terlindungi, usaha tetap berjalan, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi,” tutur dia.
Amran sebelumnya sempat mengungkapkan bahwa sekitar 4,8 juta peternak ayam dan telur dalam negeri terancam mengalami kebangkrutan akibat harga yang terus anjlok belakangan ini.
Hal ini ia sampaikan dalam rapat koorinasi pengendalian inflasi daerah 2026 edisi september bersama Kementerian Dalam Negeri di Jakarta hari ini, Senin (12/10/2026).
"Ini bangkrut ini Pak, orangnya berapa? 4,8 juta ini berteriak, bangkrut. Pemerintah, kita harus turun," ujar Amran.
Peternak memiliki harga jual yang sangat rendah atau masih di bawah harga acuan pemerintah (HAP). Seperti diketahui, HAP khusus telur berkisar Rp20.000-Rp21.000/kg. Sementara, ayam berkisar Rp40.000-Rp45.000/kg.
Pada saat yang bersamaan, konsumen juga turut mengeluhkan harga beli yang cukup tinggi dari dua komoditas pangan tersebut. Amran lantas mengungkap kebingungan dari fenomena tersebut, yang membuat ribuan kalangan peternak juga sempat berdemonstrasi dalam beberapa waktu lalu.
Dia menduga adanya permainan dari perantara atau middleman yang berperan memainkan harga tersebut. Dia juga mengaku sudah melaporkan hal ini ke pihak penegak hukum.
"Ini anomalinya. Peternak berteriak, konsumen berteriak, produsen berteriak," tutur dia.
(ain)




























