Selain itu, Jakarta juga menghadapi fenomena urban heat island, yakni kondisi ketika kawasan perkotaan cenderung lebih panas akibat dominasi beton, aspal, dan bangunan yang menyerap serta menyimpan panas pada siang hari. Panas tersebut kemudian dilepaskan secara perlahan hingga malam.
"Kota di pedalaman Jawa bisa saja memiliki suhu udara siang yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada Jakarta, tetapi karena kelembapan lebih rendah atau lingkungan lebih hijau, sensasi gerahnya tidak selalu seberat Jakarta," ujarnya.
Kelembapan udara turut memengaruhi sensasi panas yang dirasakan tubuh. Ketika kelembapan tinggi, keringat lebih sulit menguap sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas. Kondisi ini membuat udara terasa lebih gerah meskipun suhu yang tercatat tidak selalu ekstrem.
Guswanto juga menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak serta-merta menjadi penyebab utama cuaca panas yang dirasakan masyarakat Jakarta.
"Dalam kondisi tertentu, asap dengan konsentrasi cukup tebal justru dapat mengurangi intensitas sinar Matahari yang mencapai permukaan bumi," katanya.
Terkait berapa lama kondisi tersebut akan berlangsung, Guswanto menjelaskan bahwa penurunan intensitas panas bergantung pada perkembangan cuaca dan atmosfer. Frekuensi hujan yang meningkat dan bertambahnya tutupan awan dapat membantu mengurangi panas pada siang hari.
"Selama periode kemarau masih dominan dan hujan belum rutin, siang hari masih berpotensi terasa sangat terik," katanya.
Ia menambahkan, kondisi panas tidak hanya terjadi di Jakarta. Wilayah lain, seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Sumatra, Nusa Tenggara, dan beberapa bagian Kalimantan, juga berpotensi mengalami cuaca terik selama periode kemarau.
(dec/spt)































