Logo Bloomberg Technoz

Saham-saham berada di bawah tekanan setelah mengalami reli tajam, di tengah kekhawatiran apakah miliaran dolar yang digelontorkan ke sektor AI akan menghasilkan keuntungan yang sepadan. Tekanan semakin besar akibat inflasi AS yang tetap tinggi, didorong oleh kenaikan harga minyak sejak perang di Timur Tengah dimulai. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan bank-bank sentral menerapkan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.

“Kami melihat pergerakan penghindaran risiko yang cukup kuat dan lazim terjadi,” kata Hiroshi Namioka, kepala strategi di T&D Asset Management. “Untuk saat ini, investor mengurangi risiko dan mengalihkan sebanyak mungkin dana ke aset-aset aman.”

Treasury melanjutkan penguatan dalam perdagangan Asia seiring aksi jual saham yang mendorong permintaan terhadap aset aman. Imbal hasil obligasi acuan AS bertenor 10 tahun turun sembilan basis poin menjadi 5,09%, sedangkan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter turun 10 basis poin menjadi 4,70%.

Imbal hasil obligasi bertenor lima tahun juga turun 10 basis poin. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor lima tahun merosot 5,5 basis poin menjadi 2,315%.

Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,3% setelah mencapai level tertinggi sejak Mei 2025 pada Rabu.

Harga emas pulih setelah melemah selama tiga hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar US$4.145 per troy ounce. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, turun 1,6% menjadi US$104,35 per barel seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.

“Kami tampaknya kembali melihat korelasi terbalik dengan saham, yakni aliran dana ke obligasi sebagai aset aman ketika pasar-pasar lain berada dalam kondisi menghindari risiko,” kata Andrew Ticehurst, ahli strategi senior suku bunga di Nomura Holdings Inc.

Gubernur The Fed Kevin Warsh berjanji tidak akan mengarahkan pasar melalui pandangannya sendiri mengenai prospek kebijakan moneter dalam jangka pendek. Namun, kejutan inflasi tersebut akan meningkatkan perhatian terhadap pernyataannya pada Jumat di Bangkok. Warsh dijadwalkan tampil dalam sesi diskusi bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva.

Pasar kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sekitar 40 basis poin hingga akhir Januari. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober juga mulai meningkat.

Para trader masih mencermati sektor teknologi setelah saham CoreWeave Inc anjlok hingga 17% pada Rabu. Obligasi perusahaan tersebut yang jatuh tempo pada 2032—yang dibeli investor pada nilai nominal empat bulan lalu—kini diperdagangkan di bawah 78 sen per dolar.

“Kejutan data IHK AS dan aksi jual obligasi CoreWeave mendorong investor untuk menilai kembali risiko pembiayaan di seluruh sektor AI,” kata Jung In Yun, CEO Fibonacci Asset Management Global.

Aksi jual di Wall Street mendorong indeks Russell 2000 memasuki fase koreksi. Sementara itu, indeks saham semikonduktor AS yang menjadi perhatian pasar mencatat rentetan penurunan harian terpanjang sejak Mei 2025. Periode ketenangan pasar terpanjang di AS sejak sebelum pandemi Covid-19 juga berakhir.

Di tengah aksi jual saham tersebut, dua penerbit obligasi asal China menawarkan obligasi berdenominasi dolar pada Kamis. Langkah ini menyusul enam penerbit lain yang secara gabungan telah menghimpun US$4,24 miliar sepanjang pekan ini. Para penerbit berlomba mengunci imbal hasil sebelum biaya pinjaman kembali meningkat.

Ujian penting bagi perdagangan saham terkait AI akan berlangsung pada Kamis, ketika Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), salah satu perusahaan semikonduktor terkemuka, merilis laporan keuangannya. Setelah kinerja kuat sejumlah perusahaan semikonduktor besar dunia gagal mengangkat saham-saham terkait AI, TSMC menghadapi ekspektasi tinggi untuk memberikan hasil yang mampu mengesankan investor.

Di tempat lain, Anthropic PBC memberi tahu calon investornya bahwa pendapatan perusahaan pada kuartal III mencapai US$16,8 miliar, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Perusahaan pengembang model AI itu terus melanjutkan rencana untuk melantai di bursa saham. Namun, sejumlah analis menilai angka tersebut berada di bawah ekspektasi.

“Dengan angka Anthropic yang juga sedikit lebih rendah dari perkiraan, hal ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor,” kata Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co. Ditambah dengan kerugian pada indeks semikonduktor AS, “semua ini meningkatkan kekhawatiran mengenai tingkat pengembalian investasi (ROI) yang akan dihasilkan dari seluruh belanja besar-besaran untuk AI.”

(bbn)

No more pages