Pergerakan yield yang cenderung sideways dan beragam ini terjadi di tengah dinamika pasar obligasi global tersengat ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR).
Meski begitu, pergerakan yang tidak seragam antartenor ini juga menunjukkan pasar masih mencermati arah kebijakan The Fed usai inflasi AS menghangat di atas ekspektasi pelaku pasar menjadi 3,7% secara tahunan.
Namun, pergerakan yield yang lebih terbatas ini juga dibatasi oleh adanya pelebaran yield spread antara Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun dan US Tresasury yang bertambah 4,5 bps menjadi 202,7 bps.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, ketakutan investor terhadap potensi kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish hanya berlangsung dalam jangka pendek. Ia menambahkan, dengan kondisi itu pasar INDON (surat utang berdenominasi dolar AS) juga bergerak sideways dengan aksi beli terbatas di tenor 10 tahun.
Pada 10:57 WIB, US Treasury tenor 10 tahun kembali terpangkas 11,3 bps menjadi 5,09%, level terendahnya dalam tiga pekan terakhir, dan membuat sebagian besar surat utang negara Asia menguat.
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun terpangkas 8,1 bps jadi 2,9%, disusul Singapura turun 4,6 bps jadi 2,3%. Aksi beli juga merembet ke India, dengan yield yang terpangkas 4 bps jadi 7,36%. Sementara, Korea Selatan lebih stabil di 4,25%, diikuti China 1,63%, Taiwan 1,85%, dan Thailand 2,29%.
Permintaan di pasar surat utang global yang cukup dinamis ini juga ditopang oleh tekanan jual yang meluas di pasar saham. Dari dalam negeri bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,15% hingga 5.811,29 pada 11:00 WIB.
Tak cuma di Indonesia, koreksi pasar saham terjadi secara meluas. Nikkei bahkan terkoreksi 5,39%, KOSPI anjlok 8,22%, dan KOSDAQ jeblok 8,21%.
"Aksi jual yang sangat tajam di pasar saham Asia, mengingatkan pada penurunan pada pekan terakhir Juli, ketika KOSPI memimpin pelemahan dengan anjlok hampir 11% dalam satu sesi," kata Mark Cranfield, Strategis Bloomberg, seperti dikutip Bloomberg News.
Pelemahan saham-saham di Korea Selatan yang menjadi barometer investasi kecerdasan buatan (AI) anjlok dan berdampak pada pasar saham negara lainnya. Penurunan tajam saham semikonduktor itu juga dipicu oleh inflasi AS yang mencatat laju tercepat dalam lima bulan terakhir.
Cranfield menambahkan, pada periode tersebut, terjadi peningkatan permintaan terhadap obligasi sebagai aset aman, tetapi penguatan itu tidka bertahan lama karena kenaikan harga energi mendorong yield kembali naik.
Namun, ia berpendapat kondisi kali ini mungkin berbeda. "Karena risiko pecahnya gelembung AI dapat merugikan pertumbuhan ekonomi," kata Cranfield.
(dsp/aji)




























