Secara umum, Erwin mengklaim pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan atau regional, dengan pelemahan terbatas secara kuartal berjalan atau quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17%. Cadangan devisa tercatat terjaga di level US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
Dia menegaskan Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.
Intervensi terus dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, bank sentral juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.
Melansir data Bloomberg, rupiah spot dibuka terdepresiasi 0,3% ke Rp17.956/US$. Bersamaan dengan rupiah, won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan peso Filipina melemah. Sementara, pelemahan ringgit Malaysia lebih terbatas. Sebaliknya, yen Jepang berhasil menguat. Diikuti dolar Singapura, yuan China, dan yuan offshore.
(lav)




























