"Saya rapat dulu ya, saya rapat dulu dengan mereka baru saya tahu, ya. Saya akan, saya kan bukan pegawai yang membawa kapal ya. Nanti kita atur baik-baik ya," ucap Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil mengklaim stok BBM nasional berada di sekitar 16–18 hari atau diklaim di atas standar minimun nasional. Oleh sebab itu, dia menduga permasalahan di Bali disebabkan persoalan distribusi.
Selain itu, Bahlil lagi-lagi menegaskan bakal menjaga harga Pertalite agar tak mengalami kenaikan hingga akhir tahun.
"Kalau harga menyangkut dengan BBM yang di luar subsidi, itu pasti akan terjadi fluktuatif berdasarkan harga perkembangan dunia," ujar Bahlil.
Adapun, Ombudsman Republik Indonesia (RI) menerjunkan tim Respon Cepat Ombudsman (RCO) ke Provinsi Bali. Langkah ini diambil untuk mengusut tuntas antrean BBM di wilayah tersebut yang dilaporkan telah mengular hingga melewati 24 jam.
Pimpinan Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, menyatakan penanganan krisis BBM di Bali menjadi prioritas utama lembaga pengawas pelayanan publik tersebut. Menurutnya, citra Bali sebagai destinasi wisata internasional harus tetap dijaga dari gangguan kelangkaan energi.
"Hari ini kami telah memerintahkan Perwakilan Ombudsman Bali untuk menjalankan mekanisme Respon Cepat Ombudsman (RCO)," ujar Yeka usai agenda konferensi pers di Kantor Ombudsman, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Adapun, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkap dua penyebab utama kelangkaan BBM yang sempat melumpuhkan aktivitas warga di Bali selama beberapa hari terakhir.
Dia menjelaskan kendala teknis bongkar muat kapal tanker serta tingginya konsumsi BBM jenis Pertalite menjadi pemicu utama krisis pasokan tersebut.
Simon membeberkan salah satu armada kapal tanker pengangkut BBM mengalami kendala sistem penjangkaran saat hendak melakukan proses discharge (pembongkaran muatan) di pelabuhan. Kendala teknis ini berdampak pada keterlambatan jadwal distribusi yang sangat signifikan.
"Salah satu penyebab utama adalah salah satu kapal ketika kemarin pada saat untuk discharge kargo itu mengalami kesulitan di anchor, jangkarnya," ungkap Simon usai menggelar pertemuan dengan Gubernur Bali, Wayan Koster di Denpasar, dikutip dari akun Instagram resmi Koster @kosterupdate, Rabu (14/10/2026).
Di samping persoalan teknis kapal tanker, Pertamina memetakan faktor internal lain berupa lonjakan permintaan masyarakat terhadap BBM bersubsidi.
Simon menilai ketimpangan harga yang cukup lebar atau disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan subsidi mendorong peralihan pola konsumsi masyarakat secara mendadak ke BBM jenis Pertalite.
"Salah satu juga karena terutama untuk Pertalite, itu kan yang subsidi. Kalau memang kita melihat disparitas harga nonsubsidi dengan subsidi kan memang cukup jauh. Jadi, ada porsi peningkatan penggunaan BBM bersubsidi," tutur dia.
Sebagai langkah penanganan cepat, Pertamina telah menyiapkan skema penyaluran puluhan juta liter BBM yang diproyeksikan sanggup mengamankan stok energi di Pulau Dewata hingga dua pekan ke depan.
Penyaluran pasokan BBM tersebut mulai dilakukan secara bertahap sejak Rabu (14/10/2026) dan berlanjut hingga Sabtu (17/10/2026).
—Dengan asistensi laporan dari Merinda Faradianti
(azr/ros)





























