Yeka menambahkan laporan mendalam mengenai penyebab utama serta potensi dampak dari kelangkaan BBM ini baru akan disampaikan setelah proses Investigasi atas Prakarsa Sendiri (IAPS) selesai dilakukan oleh timnya.
Selain menerjunkan tim di Bali, Ombudsman RI juga menyoroti masalah keterlambatan kapal tanker serta berbagai hambatan distribusi logistik BBM yang terjadi di beberapa daerah lain.
Untuk membuktikan kondisi riil di lapangan, Ombudsman berencana menggelar inspeksi mendadak (sidak) dalam waktu dekat.
"Untuk lokasi dan provinsinya masih kami rahasiakan. Hasil dari sidak tersebut nantinya juga akan kami infokan kepada rekan-rekan media," kata Yeka.
Kerahasiaan lokasi sidak tersebut sengaja dijaga agar temuan di lapangan bersifat objektif dan tanpa rekayasa.
“Hasilnya akan kami sampaikan kepada rekan-rekan media, kemungkinan pada kisaran Desember ini,” katanya.
Kuota Aman
Adapun, mengenai dugaan adanya pemangkasan kuota BBM, Ombudsman mengungkapkan kuota nasional dari BPH Migas sebenarnya berada dalam kondisi aman hingga Desember.
Kendati demikian, pasokan yang aman di tingkat pusat justru berbanding terbalik dengan fenomena kelangkaan yang dirasakan masyarakat di daerah.
Untuk itu, investigasi difokuskan untuk melihat potensi sumbatan antara kebijakan pusat dan penyaluran riil di lapangan.
Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Provinsi Bali dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga dua pekan ke depan.
Kepastian tersebut diperoleh setelah pasokan terbaru dari PT Pertamina (Persero) mulai masuk ke Provinsi Bali secara bertahap.
"Pertama, yang ingin diperjelas adalah ketersediaan BBM Pertalite dan Pertamax aman sampai dua minggu ke depan," ujar Koster usai menggelar pertemuan dengan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri di Denpasar, dikutip dari akun Instagram resminya @kosterupdate, Rabu (14/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan guna menanggapi antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Bali selama beberapa hari terakhir.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pertamina mengambil langkah penanganan komprehensif guna memulihkan distribusi BBM di Pulau Dewata.
Pasokan energi tersebut mulai tiba secara bertahap melalui kapal tanker yang bersandar di Terminal BBM (TBBM) Manggis dan Sanggaran.
Koster menjelaskan pengiriman yang dilakukan pada Selasa (13/10/2026) mencakup 19,2 juta liter Pertalite yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat selama enam hingga tujuh hari.
Selain itu, terdapat pasokan Pertamax sebanyak 3 juta liter yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat Bali untuk tiga hari ke depan.
Rangkaian pengiriman susulan juga dijadwalkan tiba secara berkala pada 15, 16, dan 17 Oktober dengan muatan Pertalite mencapai 25 juta liter.
Tambahan pasokan ini dinilai memadai untuk menjamin ketersediaan stok Pertalite hingga 10 hari ke depan dalam kondisi konsumsi normal.
Sementara itu, pasokan Pertamax juga akan bertambah sebanyak 13 juta liter yang dijadwalkan tiba pada 13 dan 17 Oktober.
Jumlah tersebut dipastikan mencukupi kebutuhan konsumsi harian masyarakat Bali secara berkelanjutan selama 10 hingga 11 hari ke depan.
"Artinya, stok BBM Pertalite dan Pertamax tersedia melebihi kebutuhan normal di Provinsi Bali," kata Koster menegaskan.
Menurut Koster, pola kedatangan pasokan BBM yang berkesinambungan sebelum stok habis menjadi jaminan utama bahwa ketersediaan BBM di Bali dalam status sangat aman.
Pemprov Bali menjadikan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sebagai fokus perhatian utama karena memiliki tingkat mobilitas serta volume konsumsi energi yang tinggi.
Total titik pengisian bahan bakar di dua wilayah prioritas tersebut mencapai 92 SPBU, yang terdiri atas 54 SPBU di Denpasar dan 38 SPBU di Badung.
Seluruh SPBU di wilayah prioritas tersebut akan mulai dioperasikan secara penuh selama 24 jam bertahap mulai malam ini.
(smr/wdh)






























