Selain masalah pengiriman darat, kondisi cuaca ekstrem seperti gelombang tinggi di laut turut memicu kelangkaan sementara di beberapa wilayah perairan.
Keterlambatan Tanker
Terkait dengan antrean BBM yang sempat mengular di Bali, Laode membeberkan bahwa hal tersebut dipicu oleh keterlambatan kedatangan kapal pengangkut dan tingginya gelombang di sekitar dermaga.
"Terkadang kapalnya sudah tiba di lokasi, tetapi kapal tidak bisa bersandar jika gelombang sedang tinggi. Hal inilah yang memperlambat proses pendistribusian," tutur Laode.
Meskipun demikian, Kementerian ESDM dan Pertamina telah mengambil langkah cepat sesaat setelah kapal berhasil bersandar. Penyaluran BBM dilakukan secara intensif untuk memulihkan pasokan.
"Begitu kapal bersandar, seperti di Bali kemarin, distribusi langsung dilaksanakan selama 24 jam. Kami menggejot penyaluran tersebut. Kemarin kami juga telah menggelar operasi pasar 24 jam. Semoga masalah ini dapat terselesaikan hari ini atau besok," lanjutnya.
Laode menambahkan bahwa dinamika ketersediaan BBM tidak hanya terjadi di Bali, melainkan juga di wilayah lain seperti Makassar dengan penyebab yang relatif sama.
"Penyebab ini berlaku untuk semua wilayah, bukan hanya masalah di Bali. Kemarin saat saya berkunjung ke Makassar, permasalahan yang ditemukan pun relatif sama," pungkas Laode.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan kendala teknis bongkar muat kapal tanker serta tingginya konsumsi BBM jenis Pertalite menjadi pemicu utama krisis pasokan di Pulau Dewata tersebut.
Simon membeberkan bahwa salah satu armada kapal tanker pengangkut BBM mengalami kendala pada sistem penjangkaran saat hendak melakukan proses discharge (pembongkaran muatan) di pelabuhan. Kendala teknis ini berdampak pada keterlambatan jadwal distribusi yang sangat signifikan.
"Salah satu penyebab utamanya adalah kendala pada jangkar salah satu kapal ketika hendak membongkar kargo kemarin," ungkap Simon usai menggelar pertemuan dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, di Denpasar, dikutip dari akun Instagram resmi Koster (@kosterupdate), Rabu (14/10/2026).
Proses bongkar muat BBM yang mulanya dijadwalkan selesai pada pukul 06.30 WITA bergeser hingga pukul 22.00 WITA.
Keterlambatan hingga belasan jam tersebut secara otomatis mengganggu rantai pasok ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Bali.
Di samping persoalan teknis kapal tanker, Pertamina memetakan faktor internal lain berupa lonjakan permintaan masyarakat terhadap BBM bersubsidi.
Simon menilai bahwa ketimpangan (disparitas) harga yang cukup lebar antara BBM nonsubsidi dan subsidi mendorong peralihan pola konsumsi masyarakat secara mendadak ke BBM jenis Pertalite.
"Peningkatan terjadi terutama pada Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi. Disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan subsidi memang cukup jauh sehingga porsi penggunaan BBM bersubsidi mengalami peningkatan," tutur Simon.
-- Dengan asistensi Sultan Ibnu Affan
(smr/wdh)




























