Logo Bloomberg Technoz

“Pengetatan berturut-turut pada April dan Juli masih berdampak pada perekonomian. Karena itu, bank sentral menilai belum perlu menambah pengetatan saat ini,” kata Khoon Goh, kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group. “Namun, ini bukan berarti siklus pengetatan telah berakhir. Jika risiko inflasi yang lebih tinggi benar-benar terjadi tahun depan, MAS mungkin akan kembali memperketat kebijakan.”

MAS mempersempit proyeksi inflasi inti tahun ini menjadi 1,5%-2%, dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 2,5% dalam rapat Juli. Bank sentral memperkirakan inflasi umum berada di sekitar 2%.

Kedua indikator inflasi tersebut diperkirakan rata-rata berada di kisaran 1,5%-2,5% tahun depan, seiring meredanya biaya impor serta gangguan pasokan energi dan pangan. Tekanan harga domestik diperkirakan tetap terkendali, antara lain berkat subsidi pemerintah untuk sektor kesehatan dan pendidikan.

Inflasi inti diperkirakan “tetap sedikit tinggi dalam beberapa kuartal ke depan”, sebelum “turun secara nyata” mulai pertengahan 2027, kata bank sentral. Pada Juli, MAS menyatakan inflasi diperkirakan akan “melandai secara nyata” tahun depan.

MAS, yang menjadi bank sentral pertama di Asia yang memperketat kebijakan moneter setelah pecahnya perang Iran pada awal tahun ini, tampaknya memilih untuk mencermati lebih lanjut seberapa persisten tekanan harga yang terjadi. Langkah ini diambil setelah inflasi inti naik ke level tertinggi dalam dua tahun, yakni 2,2% pada Agustus.

Tarif transportasi umum akan naik pada Desember, menyusul kenaikan biaya listrik dan gas pada kuartal sebelumnya. Kembali meningkatnya pertempuran di Iran serta gangguan cuaca akibat El Niño juga berisiko mendorong kenaikan harga pangan dan bahan bakar.

Sikap kebijakan saat ini dapat “meredam perkiraan kenaikan inflasi impor dalam waktu dekat, sekaligus memastikan tekanan inflasi berangsur mereda pada 2027,” kata bank sentral. “MAS berada dalam posisi yang baik untuk merespons secara efektif setiap risiko terhadap stabilitas harga jangka menengah dan akan terus memantau perkembangan ekonomi dengan saksama.”

Pertumbuhan PDB

Keputusan tersebut diambil di tengah aktivitas ekonomi dan permintaan yang kuat di Singapura. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,4% pada kuartal III, menurut data awal yang dirilis Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri pada Rabu.

Meski melambat dibandingkan pertumbuhan 6,2% pada kuartal II setelah revisi, angka tersebut melampaui perkiraan median 5,1% dalam survei Bloomberg. Pertumbuhan itu juga berada di batas atas proyeksi MAS untuk tahun ini, yakni 4,5%-5,5%.

Lonjakan industri AI global terus mendorong aktivitas pabrik, sektor jasa, dan ekspor Singapura. Sejumlah sektor dengan kinerja terbaik antara lain konstruksi, yang pertumbuhannya meningkat menjadi 8,8%, serta perdagangan grosir dan eceran, transportasi, dan pergudangan.

“Perekonomian Singapura diperkirakan terus tumbuh dengan laju yang kuat dalam beberapa kuartal ke depan, sebelum melambat seiring meredanya siklus AI dari laju luar biasanya dan mengetatnya kondisi keuangan global,” kata MAS.

(bbn)

No more pages