Pada seri FR, yield FR0110 turun 1,98 bps jadi 7,06%, sedangkan FR0107 turun 0,81 bps jadi 7,27%. FR0111 dan FR0112 relatf stabil di kisaran 725%-7,27%. Sebaliknya yield FR0102 naik 0,92 bps menjadi 7,3% dan FR0105 naik 1,26 bps menjadi 7,3%.
Penurunan yield pada sebagian besar seri jadi sinyal positif bagi biaya pembiayaan alias cost of fund. Sedangkan, kenaikan yield pada seri yang lebih panjang seperti FR0102 dan FR0105 menunjukkan bahwa kekhawatiran investor terhadap prospek jangka panjang belum sepenuhnya mereda.
Selain itu, obligasi tenor panjang punya sensitivitas harga lebih besar terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan suku bunga. Sehingga, investor tetap meminta kompensasi lebih tinggi saat masuk pada tenor tersebut.
Sebagai catatan, saat lelang berlangsung yield US Treasury sedikit terpangkas jadi 5,19%. Sebelumnya US Treasury bertahan tinggi di level 5,23%, kendati dari sisi rupiah masih sedikit tertekan dan berada di kisaran Rp17.939/US$.
Rupiah yang masih berada di atas Rp17.900/US$ itu menggambarkan bahwa tekanan eksternal dan persepsi risiko domestik tetap membayangi aset berdenominasi rupiah.
Arah yield surat utang selanjutnya, bergantung pada pergerakan harga minyak, serta ekspektasi suku bunga global. Hari ini, setidaknya tekanan dari adanya ekspektasi kenaikan dari suku bunga acuan The Fed mulai mereda, seiring munculnya sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif tahun depan.
Sinyal itu datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Bank of New York John Williams, yang mengatakan bahwa ia masih menilai kenaikan suku bunga satu kali lagi tahun ini sebagai langkah yang tepat, tetapi saat ini tidak melihat perlunya pengetatan lebih lanjut pada 2027.
Dengan pernyataan itu, probabilitas kenaikan suku bunga untuk bulan ini kembali naik di Fedwatch, dari 20,5% menjadi 22,7%.
(dsp/aji)






























