Ia juga menyoroti kemungkinan kedua terkait alokasi kuota yang tidak sebanding dengan lonjakan konsumsi riil masyarakat. DEN mencatat realisasi penyaluran Pertalite di Bali telah mencapai 98,1% atau sekitar 560,9 ribu kiloliter.
Kenaikan konsumsi ini terjadi akibat perpindahan konsumen BBM nonsubsidi ke BBM subsidi (PSO), merespons adanya kenaikan harga bahan bakar.
"Pertamina harus mengatur kecukupan alokasi kuota ini agar pasokan BBM tetap mencukupi hingga akhir tahun," ujar Kholid.
Oleh karena itu, peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap keandalan logistik energi nasional, khususnya untuk wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi jalur laut.
"Keandalan sistem distribusi akan menentukan kontinuitas pasokan hingga ke tingkat konsumen," tegasnya.
Kholid mengingatkan bahwa indikator ketahanan energi tidak hanya diukur dari harga yang terjangkau, melainkan juga kepastian pasokan, kelancaran distribusi, dan kemudahan akses bagi masyarakat.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga menjamin ketersediaan barang di lapangan.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mempercepat pemulihan pasokan BBM di Bali melalui pengaturan pengiriman berdasarkan skala prioritas SPBU dan optimalisasi suplai secara kontinu selama 24 jam.
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat sesuai kondisi di lapangan di Provinsi Bali.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi menjelaskan penentuan SPBU prioritas menjadi bagian dari pengaturan operasional agar penyaluran dapat dilakukan secara lebih terarah.
"Kami mengoptimalkan pengiriman dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing SPBU serta menjalankan suplai secara kontinu selama 24 jam. Dengan langkah ini, kami berharap proses pemulihan pelayanan BBM kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat," ujar Ahad melalui keterangan resmi, Selasa (13/10/2026).
Dari sisi pasokan, MT Klasogun yang mengangkut pasokan Pertalite dan Biosolar telah tiba di Fuel Terminal (FT) Sanggaran pagi ini, di mana produk ditargetkan dapat disalurkan pada siang hari.
Pertamina Patra Niaga juga kembali berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Bali untuk memperbarui informasi mengenai kondisi terkini serta membahas rencana kunjungan Gubernur Bali, Wayan Koster ke SPBU. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyelaraskan informasi dan perkembangan penanganan di lapangan.
Kelangkaan BBM terjadi di Bali sejak Senin (12/10/2026) pagi hingga malam hari. Antrean mengular hingga ke jalan raya, sehingga menimbulkan kemacetan, seperti yang terjadi di SPBU di Kediri, Tabanan, Sanggulan Tabanan, Kerobokan Kelod Denpasar, dan sekitarnya. Antrean ini menimbulkan keluhan warga lantaran harus menunggu lama dalam mengisi BBM.
(smr/ros)






























