Saham–saham teknologi, saham konsumen non primer, dan saham keuangan menjadi pemberat pelemahan IHSG, dengan melemah mencapai 0,94%, 0,61% dan 0,18%. Sebaliknya, saham properti berhasil menguat 1,82% hingga menjadi pendorong terpangkasnya pelemahan IHSG.
Menariknya, saham–saham potensial, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) berhasil menguat 2,2% di level Rp8.125/saham pada perdagangan Selasa (13/10/2026).
Sama potensialnya, saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) yang menguat 1,64% di posisi Rp3.100/saham pada penutupan perdagangan.
Kenaikan saham EMAS dan saham Antam tersebut turut menahan kejatuhan IHSG yang ditutup ‘hanya’ melemah 0,17%. Terlebih lagi, terbatasnya pelemahan IHSG tak lepas dari kenaikan dan rebound-nya sejumlah saham big caps.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (13/10/2026).
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menyumbang 1,62 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 1,56 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 1,53 poin
- PT United Tractors Tbk (UNTR) menyumbang 1,27 poin
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyumbang 0,98 poin
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) menyumbang 0,97 poin
- PT Petrosea Tbk (PTRO) menyumbang 0,9 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyumbang 0,81 poin
- PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menyumbang 0,78 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyumbang 0,76 poin
Namun, rebound IHSG dibatasi turunnya banyak saham diantaranya sebagai berikut:
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengurangi 6,39 poin
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 4,67 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengurangi 4,44 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengurangi 3,7 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 2,44 poin
Sentimen Pasar Mulai Membaik
Menelisik lebih jauh, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG ditutup melemah 0,17% di level 5.925, setelah mengalami tekanan jual pada awal perdagangan hingga sempat menyentuh level terendah intraday pada level 5.828. Melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya, IHSG bergerak dalam teritori negatif sepanjang perdagangan, dengan tekanan jual yang mulai berkurang menjelang penutupan pasar.
“Sentimen negatif masih berasal dari memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak yang bertahan di level tinggi, ekspektasi akan data inflasi AS, potensi kelanjutan kenaikan suku bunga The Fed, serta berbagai isu mengenai MSCI dan dampaknya terhadap saham Indonesia,” papar Phintraco dalam catatan terbarunya, per Selasa (13/10/2026).
Namun nilai tukar rupiah yang berhasil ditutup menguat tipis 0,04% di level Rp17.896/US$, jadi salah satu pendorong susutnya pelemahan IHSG.
Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD IHSG dan Stochastic RSI melemah di area pivot. Diprediksi IHSG akan melaju sideways pada rentang 5.800–6.000, selama IHSG ditutup di bawah level 6.000.
Sentimen di pasar global juga dirasa membaik dan relatif positif mengingat salah satu faktor penting adalah pergerakan pasar obligasi AS, di mana yield Treasury 10 tahun turun 1,22% menjadi 5,195%, sehingga memberikan ruang bagi ekuitas untuk melakukan technical rebound.
“Kondisi tersebut juga diperkuat oleh komentar Federal Reserve Vice Chair Philip Jefferson yang mengindikasikan pendekatan lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga membantu meredakan tekanan di pasar obligasi,” terang Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Menurut data CME FedWatch Tools, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 bps pada pertemuan 28 Oktober 2026 mendatang turun menjadi sekitar 19,4%, dari puncaknya 68,6% pada laporan sebelumnya. Artinya, meskipun inflasi dan ketahanan ekonomi AS masih menjadi perhatian, ekspektasi kebijakan moneter menjadi sedikit lebih akomodatif terhadap pasar saham.
“Tinggal menanti bagaimana hasil perilisan data US Nonfarm Payrolls nanti yang akan dapat mengubah kembali ekspektasi kebijakan The Fed,” lanjut Mirae.
(fad/wep)






























