Di sisi lain, pasar juga gelisah terhadap berbagai risiko yang menyertai konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara belum ada niat untuk membuka ruang perundingan baru, yang kemudian mendorong harga minyak di pasar global.
Dalam riset terbaru yang dirilis Phintraco Sekuritas, harga minyak yang bertahan di level tinggi berpotensi membuat defisit APBN semakin lebar serta berpeluang mendorong defisit neraca perdagangan. Hal–hal ini yang menjadi perhatian investor asing, menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan batas defisit anggaran sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Sentimen global yang dirasa masih kurang bersahabat, menyusul penguatan Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terus menguat hingga mencapai 102,598. Ini tersulut antisipasi kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserve/The Fed yang masih akan mengerek suku bunga acuan lebih tinggi.
Kompilasi kabar negatif di pasar itu merembet menyusul kenaikan yield obligasi global, di mana yield surat utang pemerintah AS (US treasury note) bertenor 10 tahun bertahan di level tinggi 5,2%, akibat kekhawatiran akan berlanjutnya kenaikan suku bunga The Fed dan harga minyak.
Kenaikan yield obligasi memicu tekanan jual di bursa saham global, imbas investor beralih ke aset yang lebih aman dengan yield tinggi, sebut analisis Phintraco Sekuritas.
(fad/aji)





























