Logo Bloomberg Technoz

Mencermati valuasi bursa saham di regional Asia lainnya, valuasi IHSG saat ini terbilang relatif lebih murah (undervalued). Berikut perkembangan valuasi sejumlah indeks saham utama Asia:

No Bursa Saham PBV PER
1 TW Weighted Index (Taiwan) 4,32 x 21,81 x
2 NIKKEI 225 (Jepang) 3 x 22,83 x
3 SENSEX (India) 2,82 x 17,61 x
4 Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) 1,9 x 11,88 x
5 KOSDAQ (Korea Selatan) 1,81 x 25,09 x
6 Straits Times (Singapura) 1,7 x 16,37 x
7 IHSG 1,6 x 9,8 x
8 KOSPI (Korea Selatan) 1,58 x 6,3 x
9 KLCI (Malaysia) 1,51 x 14,38 x
10 Shanghai Composite (China) 1,49 x 13,57 x
11 SETI (Thailand) 1,46 x 14,04 x
12 PSEI (Filipina) 1,17 x 9 x

Sumber: Tim Riset Bloomberg Technoz, Bloomberg data 13 Oktober 2026

PBV adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total nilai buku ekuitas. Sementara itu, PER adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total laba dari seluruh konstituen pasar. Investor lazim menggunakan dua rasio ini untuk menilai murah atau mahal valuasi pasar.

Panin Sekuritas menyebut, IHSG tengah diperdagangkan pada valuasi yang amat menarik. Panin melihat potensi kenaikan IHSG akan didorong oleh kebijakan fiskal yang relatif lebih pruden serta valuasi atraktif. 

“Namun patut dicermati, inflasi dan tensi yang meningkat akan mendorong kebijakan moneter ketat, masih derasnya outflow dana asing, serta tekanan terhadap rupiah,” papar Panin Sekuritas.

Biarpun valuasi IHSG saat ini sudah terlihat sangat murah secara historis dan sebagian besar risiko telah terdiskon dalam harga, tetapi proses pemulihan masih memerlukan katalis tambahan yang lebih kuat di tengah risiko ketidakpastian. Seperti halnya keputusan final mengenai status pasar Indonesia dalam MSCI Index Review November 2026, termasuk kebijakan pembekuan sementara (freeze) terhadap peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta penambahan saham ke indeks dan/atau migrasi ke tingkat indeks yang lebih tinggi.

Sebelumnya, MSCI juga memperingatkan apabila tidak terdapat kemajuan yang memadai terhadap hal–hal transparansi, pihaknya dapat mempertimbangkan pengurangan bobot Indonesia dalam Indeks atau bahkan memulai konsultasi mengenai reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

(fad/aji)

No more pages