Selain rumah adat, pembangunan masjid, museum, bale bengong, dan toilet umum juga telah dimulai.
Susiwijono menuturkan, pihaknya turut melakukan koordinasi antar Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah Daerah, BUMN, dan juga mitra lainnya, untuk "memastikan kebutuhan pendanaan, kesesuaian desain, jadwal penyelesaian, serta pembagian peran antar pihak agar pembangunan kembali bangunan di sana dapat terlaksana dengan baik."
Di samping itu pemerintah juga menyiapkan penyaluran bantuan dari para donatur, baik rekening penampungan maupun rekening khusus bagi setiap kepala keluarga terdampak, sehingga hasil donasi dapat segera disalurkan.
Adapun masa tanggap darurat kebakaran Desa Adat Sade telah berakhir pada 20 September 2026.
Ia mengeklaim aktivitas ekonomi masyarakat sudah kembali menggeliat setelah adanya bantuan berupa bahan baku, modal usaha, dan alat produksi melalui Kementerian Pariwisata.
Untuk diketahui, Desa Sade merupakan salah satu permukiman tradisional Suku Sasak yang berada di Lombok. Kawasan tersebut telah dikenal sebagai tujuan wisata budaya selama puluhan tahun dan menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan.
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 22.05 WITA mengakibatkan 75 rumah adat, 69 artshop, 8 lumbung alang, serta sejumlah fasilitas adat lainnya hangus.
Kebakaran juga memusnahkan sejumlah benda pusaka, seperti keris, tombak dan klewang, serta peralatan seni Peresean, Gendang Beleq, Gong Tua ritual, dan naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta.
(prc/ell)































